PERSONAL tips

Pengalaman Belajar Mengemudi Mobil

Salah satu resolusi 2020 tercapai! Padahal saya lupa deh apa aja resolusi yang pernah saya pikirkan di awal tahun. LOL.

Awalnya, saya belajar mengemudi di tahun 2018 akhir. Belajarnya diajarin sama tetangga yang sering nyupirin kalau keluarga pergi. Saya belum tahu informasi tentang kursus mengemudi di daerah tempat tinggal (Pringsewu), jadi minta ajarin tetangga dulu, deh. Setelah belajar itu saya bisa mengemudi. Sekedar jalan. Tapi teknis ini-itu apalagi kalau sudah di jalan raya yang agak ramai belum handal–rasanya tuh grogi abis. Mau nengok kanan kiri nggak ada nyali. Cuma ngelirik aja! Liat spion aja hanya dengan lirikan, kepala gak bergerak. Hahaha. Belum lagi saya belum fasih balancing antara kopling dan gas. Jadi masih sering banget mati mesin!

Sejak belajar kala itu, saya nggak pernah bawa mobil sama sekali. Salah satu alasan kuatnya adalah nggak bisa ngeluarin mobil, soalnya depan rumah itu gang kecil. Pernah nunggu Putra pulang, baru deh nyoba bawa. Tapi ketika ngalamin mati mesin di tikungan yang jalannya agak nanjak, Putra udah panik, “Kita tukeran aja.” Tapi saya bilang, “Aku bisa!” Sambil berkeringat dingin karena di belakang udah banyak motor nungguin, ternyata aku memang bisa melewati tantangan itu, fiuh! Tapi masih kaku banget!

Hanya sampai situ aja, saya nggak pernah bawa mobil lagi. Akhirnya, keinginan mau belajar mengemudi muncul lagi di 2020. Iya, belajar lagi karena sudah setahun nggak bawa mobil. Keinginan itu muncul karena beberapa hal dan membuat yakin.

Jarak rumah dan tempat kerja 40 km dengan waktu tempuh kurang lebih 1 jam. Biasanya saya bawa motor. Kalau naik bis, nggak sabar! Perjalanan dengan bis memakan waktu 1.5 jam. Belum lagi kalau dapat bis yang penuh banget. Pernah deh 1.5 jam berdiri di bis. Akhirnya saya lebih sering bawa motor. Lalu berpikiran kalau bisa bawa mobil, nggak kehujanan, nggak kepansan, dan yang nggak kalah penting, masuk angin kali, ya. Soalnya, masuk angin itu my middle name.

Ditambah lagi, saya berpikir hal apa yang bisa saya lakukan di masa pandemi ini selain WFH. Terlintas lah untuk belajar. Mumpung masih WFH dan punya waktu lebih fleksibel, kayaknya waktu yang tepat deh untuk belajar mobil.  Ditambah, saya baru tau ada kursus mengemudi di Pringsewu. 

Pertimbangan untuk kursus mengemudi tentu karena AMAN: 1) didampingi pelatih profesional, dan 2) menggunakan mobil yang sudah dimodif, ada pedal tambahan di seat kiri pengemudi–jadi ada yang ngontrol di saat si pemula belum lihai dan ahli, kan.

Daaaaan… terealisasi juga untuk bisa mengemudi mobil. Pernah belajar sama tetangga tentu ada manfaatnya juga, jadi nggak blank amat ketika belajar. Pelatihnya pun bilang kalau saya tergolong cepat karena bisa langsung ke jalanan. Yeay! Kalau sama tetangga itu kan tetangga ngajarinnya secara otodidak, kalau sama pelatih tuh secara teori dan skil itu dapet. Jadi saya makin paham.

Cerita pengalaman mengikuti kursus mengemudi mobil di Pringsewu, Lampung: Latihan dilakukan selama 5 jam, bebas pilih hari (available setiap hari asal cocok). Dan durasi tiap praktek hanya 1 jam. Mobil yang digunakan untuk latihan adalah Xenia.

Hari pertama: Tanpa babibubebo, langsung jalan. Waktu itu jalan ke selatan, PP memakan 1 jam. Saya belum bersahabat dengan rem alias kalau nge-rem, seringnya masih mati. Di tikungan aja masih pelit rem, hadeuh! Jadi, seringnya tuh pedal rem udah turun duluan sebelum saya injak. Iya, pelatihnya yang udah duluan injak, wkwkwk. Di hari ini saya belajar masuk gang dan keluar gang saat mau balik. Belum lancar karena masih diberi arahan. Seselesainya, otot leher super pegal. Tenggang banget pokoknya. 

Hari kedua: Jalan ke barat, PP memakan 1 jam. Mulai rileks. Saya mulai punya feeling dalam pegang setir. Selama latihan, pelatih selalu memberikan wejangan. Terlebih saya masih ‘agak ngawur’. Saya masih kaku kalau mau pencet klakson, semacam nggak bisa gitu, lho haha. Terlalu fokus sama jalanan, sih! Quote of the day dari pelatihnya:

Jangan pelit pencet klakson dan sign.

Hari ketiga: Jalan ke timur, PP memakan 1 jam. Di hari ini saya belajar mengemudi di tanjakan–bagaimana kalau harus berhenti di jalan yang menanjak. Selain itu juga belajar mendahului kendaraan. Deg-degan banget! Ada kata-katanya yang membuat saya lebih tenang dan optimis. Quote of the day-nya:

Kuncinya, sering-sering lah mengemudi mobil supaya lancar. Pelan-pelan dulu, biarin kendaraan lain menunggu. Kalau sudah nyaman, tingkatkan lagi. 

Hari keempat: Jalan ke jalan padat penduduk alias bukan di jalan raya besar. Saya diajak ke jalan yang ada tanjakannya dan banyak tikungan. Belum juga lancar mengenai kedua hal itu. Seringnya mati mesin.

Hari kelima: Jalan ke rumah dan ke jalan padat penduduk. Karena gang rumah itu memang kecil, saya request untuk berlatih masuk-keluar gang rumah serta putar balik. Putar balik di gang kecil itu challenging banget! Saya curhat bahwa gang kecil ini menjadi penghalang pakai mobil untuk pergi. Pelatih saya sering menguatkan. Quote of the day dari pelatihnya:

Nggak harus kamu yang mengeluarkan mobilnya. Minta tolong siapapun untuk mengeluarkan mobil dari gang lalu kamu bawa ke jalanan. Sering aja begitu. Nanti kamu juga akan berpikir, ah masa ngerepotin orang terus–pasti lama-lama nyalimu semakin besar dan bisa mengeluarkan mobil sendiri.

Setelah masa kursus berakhir, saya nggak langsung mahir. Ya iyalah haha dan banyak kejadian mati mesin serta kejadian lainnya yang waw. Harus sering-sering mengemudi supaya nyalinya semakin besar.

Setelah kursus, saya mencoba untuk lebih sering mengemudi. Pernah bodi mobil lecet, anggap saja itu pemanasan. Waktu itu lagi mundurin mobil dan masih fokus liatin belakang tanpa mikir itu moncong mobil mau nyium tembok. LOL!

Mati mesin bagaikan makanan sehari-hari. Apalagi, mobil waktu latihan sama tetangga dan di kursus itu mobil CC besar. Lalu saya melancarkannya dengan mobil yang lebih kecil CC-nya. Di rumah ada 2 mobil berbeda–menurut saya, alias satunya besar (si abu), satunya kecil (si merah). Biasa belajar dengan si abu, lalu melancarkan dengan si merah. Rasanya beda banget. Emang dasar saya yang belum juga mahir, belum bisa adaptasi dan masih manja.

Kejadian yang buat saya gemeteran adalah tragedi ketika bawa si merah menabrak sebuah pohon pisang di samping rumah orang, nyungsep di batu-batu besar yang membuat mobil harus diangkat beberapa orang karena nyangkut! Bersyukur banyak orang baik. Pemilik pohon pisang pun sangat berbaik hati dan menenangkan saya kalau pohonnya memang mau ditebang. Ceritanya tuh saya mau belok di tikungan sembari menanjak. Banting setirnya terlalu banyak dan malah injak gas!!!

Bahayanya ketika panik adalah malah menginjak gas, alih-alih rem. Kalau ada apa-apa, injak rem! (Lesson learned!)

Sejak kejadian itu saya diambang ragu. Satu sisi kekeh nggak mau ini menjadi penghalang saya untuk bisa nyetir. Di satu sisi lainnya, takut banget. Mulai lah jarang membawa mobil…..

Sampai akhirnya mau kondangan bareng teman. Akhirnya saya kembali mengemudi mobil. Pakai mobil si abu. Lancar banget bawa mobil yang ini. Again, masih manja. Padahal kalau bawa mobil itu agak boros bensin. Untuk keseharian pergi kerja pasti boros banget apalagi jarak jauh.

Akhirnya saya membiasakan diri mengemudi si merah, nyoba bawa jarak jauh untuk kerja. Tentu, mesin mati itu masih dialami. Lalu belajar parkir. Tentu, ketika setelah ambil karcis, mesin mati berkali-kali sampai menyebabkan macet. Cuma berharap pengemudi lain paham kalau saya ini masih tahap belajaran wkwk.

Tips selama latihan: 1) Besarkan NIAT daripada TAKUT-nya. Takut dan khawatir adalah hal yang wajar dialami pemula. Tapi niat adalah koentji! 2) Pakai pakaian dan alas kaki yang nyaman. Saya hingga sekarang kalau mengemudi mobil itu lepas alas kaki. Harusnya dibiasakan pakai alas kaki. Jadi saya sekarang belum terbiasa pakai alas kaki. Banyak juga yang mengatakan pakai sepatu tertutup saat mengemudi itu nyaman. 3) Bawa air minum dan pastikan sudah makan supaya konsen latihannya.

Tips selama proses pelancaran mengemudi:

1) Take your time. Awalnya saya sabar banget lho di belakang truk karena takut untuk mendahuluinya. Di sisi lain khawatir sama deretan mobil di belakang yang seakan perjalanan jadi panjang karena saya nggak berani mendahului. Kalau kata teman saya:

Nggak usahlah lo sering-sering liat spion belakang. Mau jalan ke depan atau ke belakang?

2) Cari rute dan medan jalan yang mudah. Begitu juga dengan parkir. Cari parkir yang agak jauh atau yang space-nya lebih longgar. Saya pernah terpikirkan mau pasang kertas di mobil kalau saya lagi belajaran. Tapi nggak jadi karena malu. Terus cerita ke temen dan dia bilang:

Kata abang gue pas lagi belajaran, “Ngapain ditulisin gitu. Malah bikin lo manja.”

3) Kelola kepanikan apalagi saat mati mesin. Meski detak jantung bisa dipastikan berdegup kencang ya :p Percayalah, pengendara lain pasti memaklumi. Saking memaklumi, pernah kendaraan yang papasan dengan saya memutuskan untuk cari jalan lain karena saya mengalami mati mesin berkali-kali. Saya juga pernah nyuruh mobil di belakang jalan duluan kalau saya nggak yakin bisa jalan secepatnya. Jadi ingat kata-kata teman saya:

Kalo lo lagi kesusahan pas bawa mobil, buka kaca lebar-lebar, tunjukin lo itu cewek.

Hahaha. Itu sih jadi kartu AS ya. Tapi kalau kita percaya bisa, pasti bisa!

Itu 3 tips yang bisa saya bagikan berdasarkan pengalaman. Kalau tips lainnya sih tetap optimis dan sabar wkwk. Kalau saya pesimis, saya bakal nyerah paska nabrak pohon pisang. Puji Tuhan saya sekarang semakin berani. Saya belum bisa bicara bahwa saya sudah lancar banget. Saya masih mengalami mati mesin di momen tertentu. Yang saya yakini, practice makes perfect. Kamu belum mahir kalau belum berlatih 10.000 jam, begitulah kata Malcom Gladwell.

 

Alamat kursus mengemudi di Pringsewu: Wiramukti — Jalan Palapa Gunung Kancil Sampil BLK LN ASSALAM, Pringsewu-Lampung (Telp. 081288888903 / WA. 081379579441)

Biaya Mengemudi: Rp550.000,- (5x praktek) — Rp750.000,- (7x praktek) — 1.050.000,- (10x praktek). Bisa sekalian buat SIM tapi saya lupa tambahan biayanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *