Siapa yang pernah ke rumah sakit untuk minta dirawat? Saya pernah hahaha.

Kala itu pada awal Juni 2019 saya merasa tidak enak badan. Demam, diare, lemas, ditambah menstruasi. Hal itu berlangsung selama 4 hari! Lucunya adalah waktu itu demam, diare, dan lemas, lalu ada flek. Memang sih kala itu jadwalnya datang bulan. Tapi kok muncul curigation. 

Ke Dokter Kandungan. Hari pertama mulai sakit saya minum paracetamol aja. Berharap demam turun. Tapi kok enggak juga. Hari kedua saya ke dokter. Dokter kandungan LOL. Soalnya saya kira hamil, rasanya kayak meriang-meriang gimana gitu. Udah gitu flek, ditambah saya mual-mual dan perut nyeri gitu. Tapi kok diare. Lah bingung lah saat itu. Sempet-sempetnya mikir hamil padahal pake IUD hahaha. Ya sudahlah skalian aja saya cek IUD, kebetulan udah mau setahun pemakaian. Hasil: IUD baik-baik saja, bahkan sangat baik–letaknya masih di tempat yang seharusnya. Di USG pun terlihat saya memang mens harusnya sih lagi deras, kata dokter. Saya nggak hamil. Wkwkwkwk. Lalu saya diberi obat anti nyeri gitu. Terus kenapa, dong!?

Ke Dokter Keluarga (1). Hari ketiga di sore hari, saya berobat ke dokter keluarga gitu. Testimoninya bagus. Tetangga pada cocok di sana, bahkan bapak dan adik saya pun cocok. Mengantri lama karena dokter itu terkenal di sini. Hasil: Diare, saya diresepkan obat untuk diare, mual, dan pusing (begitu bacaannya di plastik resep). Pulang-pulang, rajinlah saya minum obat.

Dan karena masih sering intensitas diarenya, ambien saya muncul 🙁 Pertama kali ambien adalah ketika saya kuliah semester 8. Saat itu saya sedang PPL, duduk lama sampe pagi bener-bener pagi jam 5an gitu karena merevisi materi belajar. Ambien kedua kalinya saat hamil besar. Lalu ini ketiga kalinya! Besar banget sampai saya tuh merasa ambiennya kayak mau pecah (padahal sih enggak, efek panik).

Beli Obat Ambien. Hari keempat, saya beli obat ambien. Waktu kuliah ketika minum obat ambien sekali aja udah kempes. Ini tidak sama sekali! Duduk semakin nggak nyaman.

Ke Dokter Keluarga (2). Sorenya saya pergi ke dokter lainnya. Kenapa? Karena tidak ada perubahan. Saya masih agak demam, diare pun masih. Lalu saya diresepkan antibiotik. Kata Putra sih antibiotiknya udah dosis lumayan. Hasil: Kemungkinan infeksi pencernaan. Makanya saya diresepkan antobiotik.

Ku Tak Tahan Lagi. Rasanya lemes banget. Nggak kuat gendong Liora. Seperti nggak berangsur lebih baik. Saya heran banget padahal sudah berobat di dua dokter tapi belum ada perubahan. Akhirnya saya memutuskan jika keesokan harinya masih belum membaik, saya mau minta dirawat di rumah sakit aja. Biar cepat sembuh, pikir saya.

PANIK! Keesokan harinya, saya BAB masih diare dan ada darah!!!!! Panik luar biasa. Ini saya malah jadinya fokus ke ambien. Hari kelima ini, tekad saya untuk melarikan diri ke rumah sakit semakin bulat. Saya sarapan dan langsung pergi ke rumah sakit. Langsung mendaftarkan diri di UGD. Obat-obat yang saya terima dari berobat sebelumnya saya serahkan ke perawat untuk dilihat obat apa saja yang sudah saya minum selama ini.

Dirawat di Rumah Sakit

Di UGD, menunggu kamar siap.

 

Rasanya ketika masuk UGD, dokter yang ada seperti meremehkan saya. Soalnya ketika saya menunggu diantar ke kamar dengan posisi sudah diinfus, saya mendengar mereka berbicara. Nadanya tuh kayak diare doang lho. Hahaha tapi saya tak peduli. Saya hanya ingin cepat sembuh. Badan lemas plus punya anak kecil yang nemplok emak banget, asli saya langsung  ngomong ke diri sendiri, jangan dan nggak mau sakit lagi! Soalnya jadi berabe!

Sebenarnya saya memutuskan masuk RS pun karena bergantung pada BPJS atau asuransi. Artinya untuk masalah biaya tidak perlu pusing. Waktu Liora masuk RS 4 bulan sebelumnya, Liora memakai BPJS dan asuransi bersamaan. Tapi kali ini sudah tidak bisa. Akhirnya saya memutuskan untuk pakai asuransi karena lebih menguntungkan. 

Setelah masuk kamar, saya menghubungi orang rumah untuk membawakan saya pakaian dan perlengkapan mandi. Lalu saya beristirahat.

Malam pertama saya ditemani adik saya. (Putra belum pulang, soalnya.) Saya susah tidur di tengah malam karena saya siangnya banyak tidur LOL. Jadilah saya nonton FTV SCTV (penting banget).

Dan karena waktu itu ada Janji Jiwa baru buka, coba lah beli untuk menghibur diri. Beli 2 kok dapat 4. Jebuleeee buy 1 get 1. (penting juga ini haha) Masih berkedok menghibur diri, saya juga sempat beli Nasi Padang dan Nasi Uduk. Pasien ngeyel ya saya ini. Udah tau diare, sempet aja makan Nasi Padang dan Nasi Uduk (jangan ditiru wkwkwk). Tapi ternyata saya nggak sanggup habisin itu. Haha kepengen karena hawa doang itu mah.

Besoknya, Putra pulang dan menemani saya. Malamnya, Liora diantar karena rewel mencari saya. Akhirnya kami bertiga nginep bertiga (lagi) di RS. 

Pengalaman Pertama Diopname

Ini kali pertama saya diinfus karena sakit. Kalau diinfusnya sih sudah kali kedua. Yang pertama waktu melahirkan Liora, pas banget pas lagi ngeden Liora, dipasang infus. Deg-degan banget! 

Baca juga: (Saatnya) Si Kecil Tiba!

Entah, saya kala itu merasa bangga masuk rumah sakit. Berangkatnya dengan penuh keyakinan bahwa saya pasti cepat sembuh kalau dirawat. Faktanya, memang iya! Merasa bangga lagi karena keputusan yang saya ambil ini sangatlah tepat. Proses recovery cepat. Masalah atas diare, mual, dan ambien teratasi. Meski bertahap. Awalnya, lemas dan mual dulu yang hilang, ambien masih lumayan besar (sejempol tangan saya lho dan bagi saya itu rekor terbesar). Sementara diare, intensitasnya seringnya berkurang drastis. Dan aseli, susah bener cebok ketika masih agak diare gitu sementara tangan kiri diinfus LOL hahaha. Malah kayaknya saya semprot aja pakai air. Udah gitu saya mens. Lengkap sudah! :’)

Lalu di saat itu saya semakin paham rasanya disuntik antibiotik. Tangan rasanya pegel banget kayak kesemutan. Pantas saja waktu Liora dirawat karena DBD kala itu, nangisnya heboh. I feel you, Liora sayang.

Sebenarnya, ekspektasi saya nginep aja semalam di RS. Tapi, di hari pertama dokter visit, beliau belum kasih izin bisa pulang. Jadilah bermalam sama Liora di malam kedua. Jadi setelah saya pulang dan melihat hasil tes darah saya, saya baru mengetahui bahwa hasil tes itu menunjukkan tim sel darah putihnya di bawah seharusnya tapi ya nggak rendah-rendah amat (lupa exactly berapa jumlahnya). Berarti memang menunjukkan adanya infeksi. Pantes aja diare 5 hari nggak kelar-kelar. Tapi dokter nggak bilang apa-apa. Beliau santai banget dan selalu bilang “Halah nggak pa-pa kok.” Sambil ketawa kayak ngeledek gitu. Jujur aja, semakin ke sini saya malah semakin ngeri sama ambien saya. Ckckckck.

Karena niatnya cuma semalam aja di RS, nggak bilang siapa-siapa. Mertua juga enggak. Tapi terkadung alias terlanjur sepupu-sepupu pada tau karena sempat update IGs, meski beberapa saat kemudian saya hapus. Soalnya ini bukan apa-apa banget jadi nggak ingin ada yang repot-repot datang (kayak ada yang mau dateng aja wkwk).

Tapi, lesson learned dari pengalaman ini adalah kalau merasa sakit berhari-hari tidak juga sembuh, lalu ada elemen kepanikan dalam tubuh, ditambah merasa ada tanggungan penting (kalau saya sih anak dan 2 minggu kemudiannya saya ada Latsar dan harus fit), rawat inap bisa jadi solusinya. Saya sebenarnya merasa sedikit menyesal kenapa tidak segera aja ke rumah sakit karena kurang lebih 4 atau 5 hari di rumah dalam kondisi sakit itu lumayan menyiksa. Lemes, sakit, nggak bisa ngapa-ngapain, tapi Liora maunya nempel terus (mungkin dia ngerasa kali ya). Sedangkan ketika rawat inap malah terasa meningkat drastis energi saya. 

Jadi intinya saya masuk RS karena apa sih? Jawabannya infeksi pencernaan aja deh. Tapi paket combo sama ambien. LOL.

Lalu, inti dari postingan ini apa sih? Ya kan bisa ambil hikmahnya, kali aja kalian kalau 1) merasa sakit berhari-hari tidak juga sembuh, 2) lalu ada elemen kepanikan dalam tubuh, 3) ditambah merasa ada tanggungan, rawat inap bisa jadi solusi. Mantul, bukan?