Ada teman kerja masuk RS… karena DBD. Ada tetangga masuk RS… karena DBD. Dalam dua bulan terakhir, banyak banget rasanya cerita orang-orang kena DBD. Belum lama ini lingkungan rumah difogging, ya meski itu bukan langkah yang efektif tapi paling tidak ada langkah baik dalam mengatasi DBD ini.

Tau nggak… DBD ini mengingatkan saya pada Februari tahun lalu. Liora masuk RS karena DBD! Awalnya saya nggak ngeh kalau Liora DBD. Cuma yang saya pahami adalah Liora pas satu tahun, rewel badan demam pikirnya karena kelelahan karena lagi asik-asiknya bisa jalan. Dikasih paracetamol, turun demamnya. Terus naik lagi. Turun lagi. Naik lagi. Gitu aja terus. Bahkan ada sehari dia nggak demam. Besoknya… demam lagi.

Cek lab dan hasilnya bikin saya sedih. DBD! Rasanya waktu itu bersalah banget. Coba saya lebih peka kalau demam yang naik turun itu justru bahaya. Sebelumnya memang tetangga dekat rumah masuk RS karena DBD. Tapi kok ya belum ngeh juga!

– – – – –

04.02.2019 – Setelah demam naik turun selama 2 hari, akhirnya ke dokter. Katanya bisa jadi kena DBD dan kalau demam tak kunjung pergi, disuruh cek darah.

Semuanya belum mandi, pagi-pagi langsung ke DSA Liora yang lagi praktek di RS M. Biasanya kami ke RS S. Sampe ngikutin dokternya lagi praktek dimana 

– – – – –

06.02 2019 – Dini hari Liora nangis terus. Matahari terbit, langsung deh ke RS untuk cek darah. Setelahnya langsung juga ke dokter dan… terindikasi Demam Dengue. Harus dirawat di RS. Belum tau apakah Demam Berdarah Dengue karena menunggu diagnosis akhir setelah dirawat.

Akhirnya diputuskan Liora rawat inap di RS. Menunggu lama di IGD karena menunggu kamar. Jadi ceritanya pakai BPJS, harusnya kan dapat Kelas 1, tapi saya minta upgrade ke VIP. Ternyata VIP penuh. Akhirnya upgrade lagi ke VVIP. Saya dan Putra belum mikirin biaya banget. Yang jelas pikirannya nanti pake asuransi juga, jadi nggak berat-berat banget. Lagipula kami mencari tempat yang nyaman untuk Liora karena masih kecil dan pasti rewel. Perlu tempat yang nyaman supaya Liora dan siapapun yang menjaga tetap ‘waras’.

Liora banyak menangis. Pengennya nenen terus dan nggak mau lepas dari saya. Otomatis saya jadi capek banget. Seakan nenen itu zona nyamannya. Ketika sudah masuk kamar, Liora jadi lebih tenang. Tapi tetap ingin selalu sama saya. Makannya sulit sekali. 

– – – – –

07.02 2019 – Seneng banget Liora lebih tenang. Lucunya, bangun-bangun wajah Liora kayak bengkak gitu LOL. Entah karena kemarin banyak nangis atau efek diinfus (?) Apa iya kalo diinfus jadi bengkak gitu wkwk. Atau karena tidurnya panjaaaang. Semaleman Liora nggak bangun sama sekali! Saya pun senang karena bisa tidur dengan nyenyak dan panjaaaaang. Liora memang terlihat membaik, sudah tidak demam lagi. Tapi trombositnya turun lagi 🙁 Bisa jadi ini masuk fase kritis dimana terjadi pendarahan dan kebocoran plasma darah yang bisa ditandai dengan munculnya bintik-bintik merah. Dengan diinfus sih membantu banget tambah cairan. Apalagi Liora tidak bernafsu makan.

– – – – –

08.02 2019 – Liora kembali ceria! Udah jalan sana sini, mengkurep di kasur, tepuk tangan, dll segala hal yang bisa dia lakuin. Nafsu makan belum oke dan trombosit turun lagi. Dan hari ini mulai munculah bintik-bintik merah di tubuhnya. Tapi selama Liora semakin ceria, rasa cemas perlahan hilang.

Lagi ngapain hayo hahaha

– – – – –

09.02 2019 Liora was getting better! Trombosit sudah mulai naik. Ketika trombosit sudah mulai naik, seterusnya akan selalu naik, kata dokter. Bahkan Liora sudah boleh pulang. Tetapi Putra minta untuk tambah sehari supaya Liora semakin fit dan kuat. Apalagi nafsu makan Liora belum kembali, padahal saat-saat seperti ini adalah fase pemulihan dimana cairan kembali ke pembuluh darah. Artinya, dengan menambah sehari lagi, Liora masih mendapat infus dan itu membantu memaksimalkan proses pemulihannya.

Bawa jarik dari rumah untuk jadiin sarung kasur rumah sakit. Bantal dan guling pun bawa dari rumah karena… lebih nyaman aja gitu hehe

– – – – –

10.02 2019 – Puji Tuhan Liora bisa pulang! Paginya, Liora masih diambil darah dan hasilnya trombosit naik lagi. Setelah diambil darah, perawat langsung melepas infus Liora. Lumayan mengejutkan bahwa jarum infus Liora bengkok! Pasti karena dia banyak gerak wkwk. Memang sih selama dirawat ini, darah sering naik ke selang infus -____- Setelah infus dilepas, Liora merasa bebas, dia jalan sana sini riang gembira hihihi.

– – – – –

Selama di rumah sakit, Liora termasuk tidak rewel dan dia banyak istirahat alias tidur. Hanya saja nafsu makan belum kembali. Dan hal yang paling membuat Liora nangis tersedu-sedu setiap harinya adalah karena 1) perawat ambil darah (pagi), 2) dokter visit (pagi), 3) perawat antar obat (pagi sore), 4) cleaning servis bersih-bersih (pagi sore), 5) petugas antar makanan dan ambil piringnya (pagi siang sore). Wajib nangis pokoknya. Setiap yang berseragam masuk, dia nangis sejadi-jadinya. Kalo inget ini jadi lucu wkwk.

Diagnosis akhir, Liora kena Demam Berdarah Dengue.

Setiap awal tahun pasti musim DBD. Sampai-sampai muncul kekhawatiran kena serangan DBD (amit-amit). Nah karena kejadian ini, kurang lebih saya jadi paham tentang itu. Supaya postingan ini lebih bermanfaat (cielaah) maka saya akan sedikit mengupas tentang DBD itu, singkat dan padat dengan harapan memberikan kejelasan. (Disclaimer: menulis berdasarkan hasil membaca dan pengalaman, bukan ahlinya.)

– – – – –

Apa itu Demam Berdarah Dengue?

Penyakit infeksi yang disebabkan oleh Dengue Virus (DENV) dengan perantara gigitan nyamuk betina Aedes aegypti dan Aedes Albopictus. Yang mengalami DBD ditandai dengan demam tinggi, nyeri otot/sendi, bintik-bintik merah, hingga mual dan muntah. Parahnya, ini dapat menyebabkan pendarahan yang bahkan bisa mengakibatkan kematian. DBD ini belum ada obatnya, jadi tenaga kesehatan melakukan penanganan kesehatan dengan memperbaiki sistem sirkulasi darah penderita DBD supaya keadaan keluarnya darah di sel pembuluh darah bisa segera diatasi. Dan itu kembali lagi tergantung pada daya tahan tubuh. 

 

Fase Demam Berdarah Dengue?

1) Fase demam (Febrile Phase): mengalami demam tinggi selama beberapa hari, hilangnya nafsu makan, sakit kepala, tubuh nyeri, hingga mual muntah, tromborsit turun. 2) Fase kritis (Critical Phase): demam mereda tetapi pembuluh darah mengalami kebocoran. Hal ini bisa ditandai dengan munculnya bintik-bintik merah. Pada fase ini penting untuk memantau cairan tubuh. 3) Fase penyembuhan (Recovery Phase): suhu tubuh normal, cairan yang keluar dari pembuluh darah kembali masuk ke dalam pembuluh darah, bintik-bintik merah berkurang, serta trombosit mulai naik.

Bagi penderita DBD disarankan banyak istirahat dan minum air putih yang banyak untuk mencegah dehidrasi. 

Untuk semuanya, lakukan pencegahan DBD ya dengan melakukan 3M-Plus!

1) Menguras tempat penampungan air. 2) Menutup rapat tempat penampungan air. 3) Mendaur ulang barang yang berpotensi menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti.

Lakukan pula langkah Plus untuk membantu pencegahan seperti langkah antisipasi dari gigitan nyamuk, misalnya memakai obat anti nyamuk dan losion anti nyamuk, memakai kelambu, hindari membuat spot ramah nyamuk (kebiasaan menggantungkan pakaian berhari-hari), menanam tanaman pengusir nyamuk, memasang kawat di ventilasi rumah, serta hal lain yang memungkinkan dilakukan untuk mencegah berkembangbiak dan munculnya nyamuk.

“Kasus 16.099 dengan kematian 100 untuk nasional. Upaya yang dilakukan mendorong peningkatan kegiatan preventif,” kata Direktur Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kemenkes RI, dr. Siti Nadia Tarmizi ketika dihubungi lewat aplikasi pesan dari Jakarta.Baca selengkapnya di artikel “Kemenkes Catat 100 Kematian Akibat DBD Sampai Awal Maret 2020”

Tahun 2020 baru aja jalan 3 bulan, tapi di awal bulan ketiga sudah 16 ribu yang terjangkit DBD dan ada 100 kematian. Artinya ini perlu perhatian khusus dari kita supaya kita senantiasa melakukan upaya pencegahan. Oke?

Semoga kita semua selalu dalam keadaan sehat ya! Amin!