Don’t let idealism stress you out.

Ada nggak sih ibu-ibu yang nggak pernah mengalami anaknya GTM sama sekali? Kalo saya mah jangan ditanya, sudah berpengalaman haha!

GTM, Gerakan Tutup Mulut. Kesannya ngeri yes. Penyebab GTM ini macam-macam, bisa karena si anak sakit, bosan, tidak lapar, hingga trauma terhadap makanan tertentu. Agak sulit juga mengidentifikasi penyebab anak sendiri tuh GTM karena apa.

Kalo Liora GTM, sudah pasti saya pusing. Nih anak nggak laper apa ya? Sakit? Mana yang sakit kok nggak rewel. Bosan? Mana mungkin! Saya itu kan termasuk ibu yang telaten masak MPASI anak lho (muji diri sendiri) menu makan ganti-ganti lho padahal. Terus yang bikin kepala tambah cenut-cenut tu… udah masak dengan segenap hati jiwa raga dan waktu jadinya sia-sia 🙁

Momen ketika Liora GTM yang saya ingat banget sampai sekarang adalah saat Liora kira-kira 9 bulan. GTM terparah yang pernah saya alami. Lima suap aja udah bersyukur banget. Bingung banget saat itu cari penyebabnya. Sampai akhirnya di suatu hari saya menemukan penyebabnya… Liora lagi tumbuh empat gigi, dua atas dan bawah!

Baca juga: Pertama Tumbuh, 4 Gigi!

*tepok jidat Maafin Mama ya Li nggak tau kalau kamu lagi tumbuh gigi…

Kalau Liora GTM, saya langsung ganti menu–entah bentuknya yang berkuah jadi tanpa kuah, teksturnya yang dilembutkan, atau nasi doang. Bahkan saya pernah sengaja nggak kasih makan karena emang lagi bener-bener susah makan dan menunggu momen doi laper. Ternyata ya nggak nyari makan juga lho meski udah sengaja nggak dikasih makan :’) huft ternyata nggak laper juga.

Kalau tanya tips menghadapi GTM sama anak, saya bakalan jawab: sabar ajaaaah, GTM pasti berlalu wkwk nggak solutif emang. Tapi ada hal-hal yang pernah saya lakukan demi Liora makan:

Haluskan makanannya. Sudah saya lembutkan makanannya, tetep aja nggak mau, malah hoek. Liora sih emang gitu, kadang sama yang lembut-lembut (tertentu) hoek. Makanya umur berapa itu lah pokoknya nasinya udah bukan nasi lembek lagi (naik tekstur).

Kasih kerupuk. Entah ya kenapa kalo dikasih kerupuk pasti mau. Jadi pas doi lagi mau memasukkan kerupuk ke mulutnya, langsung deh saya suap makanannya sebelum si kerupuk masuk. Tapi berhasil saat Liora usia di bawah 10 bulan. Semakin ke sini semakin ngerti sih soalnya haha. Malah milih makan kerupuk sampai habis.

Makan pakai buah. Kalo buah pasti Liora mau makan. Jadi pernah saya beri makan Liora diselang-seling buah-nasi (tentu sama sayurnya). Kalau disuap nasi nggak mau, berarti kasih buah. Kalau kira-kira sudah ‘agak lupa’ disuapi nasi lagi.

Makan sendiri. Yang ini sih jarang bangeeet. Soalnya seringnya berujung makanan diacak-acak, dilempar-lempar, diremes-remes. Ditambah PR buat ai nyuci-ngepel. Nyuapin itu sendiri aja udah lelah ditambah beberesnya. Bye!

Sambil nonton TV, bermain, atau jalan-jalan. Yang ini ampuh! Hahaha. Don’t judge me, please. Padahal saya dulu sempet berbangga diri karena sampai Liora usia 12 bulan, doi masih anteng makan sambil duduk tidak jalan-jalan. Sekarang sih… ya kadang… beberapa menit di awal bisa anteng. Selanjutnya minta turun dan main ke sana kemari. Hmmm…

Kasih vitamin penambah nafsu makan. Saya pernah konsultasikan susahnya Liora makan pada DSA padahal seharusnya tidak ada alasan bagi Liora untuk tidak bernafsu makan. Lalu DSA Liora mengatakan kalau anak tidak nafsu makan bisa juga karena kurangnya mikronutrien dalam tubuh. Langsung saja saya (minta) diresepkan vitamin yang mengandung penambah nafsu makan. Voila! Liora mulai mau makan, meski tidak menjadi doyan banget. Paling tidak Liora mau/gampang makan dan mamak tidak pusying hehehe. Sampai sekarang masih mengonsumsi karena toh itu vitamin. Kalau efeknya jadi Liora berlebihan makannya, barulah saya hentikan. Tapi ternyata tidak sebegitu hawa makan.

Pastinya prinsip orang tua dalam memberi makan pada anak beda-beda. Ada yang memang tetap pada idealnya memberi makan anak itu seperti apa. Misal, makan sambil duduk dan fokus + menikmati makanannya. Kalau mau jalan-jalan, ya sudah tidak usah makan–menunggu waktu yang tepat bagi anak untuk mau makan.

Kalau saya… tadinya menerapkan hal di atas. Ditunggu sampai doi mau makan tapi kok ya tetep nggak mau duduk anteng dan makan. Kalau sudah begitu, yang penting anak makan… dan runtuhlah idealisme memberi makan anak LOL.

Nah, belakangan ini nih Liora susah makan karena… bosan. Bosan dengan yang berkuah tampaknya. Saya buat menu kuah-kuah tapi nggak melulu tentang sup. Soalnya yang berkuah tuh relatif simpel masaknya dan saya seminggu belakangan kesiangan. Kembali lagi, yang penting anak makanmaka saya sejak itu tiap harinya masak dengan menu beda yang tanpa kuah. Liora doyan makan lagi yeay!

Postingan curhat ini bukan untuk ditiru lho ya. Butuh kebijaksanaan bagi yang membaca. Kuncinya sih lakukan saja mana yang terbaik untuk anak. Siapa sih yang tidak ingin anaknya lahap makan, makan sendiri, anteng, dan apa saja doyan? Pusing sampai ke ubun-ubun kalau anak susah makan.

Saya juga sebenarnya bersyukur karena banyak ibu-ibu yang share resep makan untuk anak. Sangat membantu saya kalau bingung banget mau masak apa untuk Liora supaya tidak bosan. Hal itu juga meningkatkan semangat saya untuk masak dan juga membagikan kembali menu yang pernah saya masakkan untuk Liora. Klik di sini ya untuk lihat!

Sharing is caring. Love,