Encouragement requires empathy and seeing the world from your spouse’s perspective. We must first learn what is important to our spouse. Only then can we give encouragement. With verbal encouragement, we are trying to communicate, “I know. I care. I am with you. How can I help?” We are trying to show that we believe in him and in his abilities. We are giving credit and praise. – Gary Chapman

Bicara dari hati ke hati. Kapan terakhir kali saya dan Putra melakukan itu ya? Setelah diingat-ingat, ternyata sebelum Liora lahir. Sejak itu, jarang sekali kita ngobrol tentang curahan hati kita masing-masing, ditambah LDM pula! 

Beberapa bulan yang lalu, kami bertelepon. Berawal dari saya yang membuka obrolan dengan mengantongi topik menarik. Sebelum bertelepon, saya chat Putra dulu kalau ini dalam rangka #knowbetter. Saya merasa bosan dengan topik obrolan kami hanya seputar Liora. LDM ditambah dengan kesibukan masing-masing membuat komunikasi kita sekadaran saja. Waktu itu saya fokus sama Liora dan Putra ya sama kerjaannya yang seringnya sampe malem gitu. Apalagi kalo lagi shift 3, yah kebalikan banget keseharian kita. Malam saya tidur, Putra kerja. Susah nemu waktu mau vicall.

Jadi, topik kami saat bertelpon waktu itu adalah the 5 love languages, bahasa cinta. Ya, dalam sebuah hubungan, kita harus paham bahasa cinta pasangan. Soalnya bahasa cinta kita dengan pasangan bisa jadi beda lho. Makanya, kalo sering marahan dalam sebuah hubungan, bisa jadi salah paham tuh tentang bahasa cinta masing-masing. Nah, tau bahasa cinta pasangan itu kunci lho supaya sama-sama nyaman dalam sebuah hubungan.

Five Love Languages ini konsep dari seorang ahli bidang relationship bernama Dr. Gary Chapman. Menurutnya, relationships grow better when we understand each other.

 

5 Bahasa Cinta

💚 Kata Apresiasi 💚

Pasangan dengan bahasa cinta ini sangat senang dengan kata-kata yang memotivasi dan membangun seperti kata pujian dan dukungan. Maka ia akan merasa dicintai dan dihargai.

So words are powerful communicators of love.

Ya iya, langsung cas cis cus tersampaikan pesannya hehe. Jadi, beri pujian pada hal kecil dan beri komentar positif. “Kamu memang keren deh!” atau hanya dengan “I love you.” sudah sangat menyenangkan hatinya.

 

💚 Waktu Berkualitas 💚

Ia akan merasa dicintai jika diberi waktu luang hanya untuk berdua saja dan diberi perhatian. Bagi pasangan yang memiliki bahasa cinta ini,

time is a precious commodity. 

Misalnya dengan ngobrol berdua saling berkisah kasih, kencan, atau bercanda sekalipun ia akan merasa dicintai.

 

💚 Hadiah 💚

Hadiah adalah simbol dari cinta, baginya yang memiliki bahasa cinta ini. Ia akan merasa diperhatikan. Tidak masalah sekecil apa atau seberapa harganya yang terpenting adalah ia merasa dirinya selalu terpikirkan olehmu.

The heart of love is the spirit of giving.

Bisa dengan memberi hadiah di hari spesial.

 

💚 Pelayanan 💚

Melayani atau membantu pasangan dengan bahasa cinta ini akan meningkatkan emosional cintanya terhadapmu. Jadi, melakukan hal kecil untuknya tandanya kamu telah mengekspresikan cintamu padanya.

Actions speaks louder.

Beri bantuan inisiatif bukan karena disuruh seperti bersedia membantu merupakan yang disukai dari pasangan dengan bahasa cinta ini.

 

💚 Sentuhan Fisik 💚

Dengan sentuhan fisik, ia akan merasa aman dan dicintai. Sentuhan fisik itu bisa dengan ber-highfive, bergandeng tangan, berpelukan, berangkulan, ciuman, hingga berhubungan seks.

Physical touch is a way of communicating emotional love.

Bahkan dengan membelai atau diusap-usap rambutnya saja sudah merasa dicintai lho. 

 

Setelah membahas tentang 5 bahasa cinta, kami jadi tau nih bahasa cinta masing-masing. Bahasa cinta kami berbeda. Kalo Putra bahasa cintanya adalah pelayanan. Kata Putra sih dia merasa diperhatikan kalau dilayani kebutuhannya, kepentingannya, ke ke ke lainnya. Untuk kondisi kami yang LDM, saya memang sangat melayani Putra kalo lagi pulang. Misalnya menyiapkan makan, pakaian, hingga menawarkan hal-hal yang mungkin sedang diinginkannya. Saya pikir, kami jarang bertemu jadi sekalinya bertemu, saya mau melayani suami lah mumpung ketemu. Soalnya bojo gue ini ngebujang sih ya apa-apa sendiri di sana (auto nyanyi lagu dangdut—masak masak sendiri makan makan sendiri cuci baju sendiri tidurpun sendiri). Sekali pulang disayang-sayang 😝 Haha enggak juga dinggg. Kalo pas pulang ada percikan kilat kecil… ngebujang lagi dia wkwkwk.

Beda dengan saya. Saya lebih ke waktu berkualitas. Kami sedang menjalani LDM dan waktu bertemu sangatlah sebentar. Ngobrol hanya by phone. Kebayang kan kalo ngobrol sehari-hari pake HP? Nggak marem bagi saya. Makanya kalo pas pulang saya selalu nuntut Putra untuk ngobrol sebelum tidur. Pas hamil sih masih sering ya ngobrol kalo Putra pulang. Nah sejak Liora lahir, berkurang momen berduanya. Pernah kita ngobrol sebelum tidur, tapi lama-lama hening karena ternyata masing-masing merem gitu aja LOL. Sampe udah nggak kuat mau ngobrol karena saking ngantuknya hahaha. Kayaknya gue butuh waktu berdua nih Say! Adek (aka gue) butuh perhatian nih! (ngomong sama Putra haha). Syukurlah habis pemilu besok, kami mau pacaran. Liora sama Yangti dan Mbak Ning dulu wkwk.

Ada nih momen yang saya merasa kami punya waktu berkualitas. Dengan jalan-jalan, misalnya. Dan itu me-recharged hubungan kami. Seperti saat kami ke Bandung dan BBW. Baca: Jalan-jalan ke Chinatown Bandung & Pengalaman ke Big Bad Wolf 2019 Sesimpel itu sebenernya bahasa cinta yang aku butuhkan eiym. Karena jalan berdua dengannya saja sudah membuat jantungku berdebarrrr (apa banget sih, kata Putra). Terus kata mama waktu saya bilang abis pemilu mau pacaran berdua sama Putra dan Liora ditinggal: Pacaran 7 tahun masih kurang apa? Bukan perkara kurang atau tidak. Tapi ini kebutuhan untuk hubungan yang harmonis cielaaah!

Hehe sebenarnya lebih kepada membangkitkan rasa lagi. Kami akui LDM itu hambar. Ada kala kami berada di titik jenuh. Kami memang sejak pacaran pun jarang marahan/ berantem/ anything… you name it. Sekalinya ada yang mengganjal di hati, kami hanya bisa mengungkapkan lewat telepon/ WA. Gemes rasanya karena kurang plong aja. Kalau bertemu kami marahan, rugi banget soalnya kan jarang ketemu. Bagaimana pun juga selalu ada solusi di sebuah momen yang kita rasa stuck banget. Juga, kami jarang banget mengeluhkan LDM. Bisa diitung pakai jari. Kalo lagi ngeluh LDM, tandanya sensitifitas diri lagi meningkat wkwk.

Ah malah kemana-mana ngomongnya… Lanjut…

Kunci sebuah hubungan: komunikasi dan keterbukaan. Sebab hal itu mengobati rasa ketidaktahuan. Putra jadi tahu bahasa cinta saya. Awalnya salah tebak. Sebelum Putra nebak saya sudah bilang pasti dia bakalan gak tepat nebaknya. Eh bener 😑 Kalo saya mah tepat sasaran nebaknya. Pantesan sejak pacaran kadang saya kesel sama Putra ya karena ketidakpekaannya itu loh sampe gak paham bahasa cinta gue! *hormon cewek* haha. ‘Kadang kesel’ karena saya kadang juga berpikir kalau saya sudah merasa ‘penuh’. Bahasan ‘penuh’ lain kali saya coba post di blog kali yah 🤗 

Jadi, pahami bahasa cinta pasangan. pa-ha-mi. Kalau tidak paham, ko-mu-ni-ka-si-kan. Buktinya karena komunikasi, Putra jadi paham bahasa cinta saya LOL. Meski belum direalisasikan banget 😜 (melet ke Putra) Menjadi tahu juga sudah langkah awal menuju memahami lho 😘

Baiklah… kutipan berikut adalah tanda pembuka dan penutup postingan saya kali ini. Because I couldn’t agree more. 

Encouragement requires empathy and seeing the world from your spouse’s perspective. We must first learn what is important to our spouse. Only then can we give encouragement. With verbal encouragement, we are trying to communicate, “I know. I care. I am with you. How can I help?” We are trying to show that we believe in him and in his abilities. We are giving credit and praise.

Semoga dengan postingan ini kalian akan saling tahu bahasa cinta masing-masing dalam sebuah hubungan. Salam nyaman dalam menjalin suatu hubungan dengan seseorang! 

 

Sharing is caring. Love,