Pengalaman Tes Rohani (Kesehatan Jiwa)

Yang paling umum kan tes kesehatan jasmani, ya? Lah ini tes rohani.

Hasil gambar untuk people doing test
picsource: https://www.dailydot.com/via/zimbio-quiz-time-waste/

(disclimer: postingan ini malah banyak curhatnya dan ngalor ngidul)

Jadi untuk memenuhi syarat pemberkasan CPNS, saya harus melampirkan surat keterangan sehat jasmani dan rohani. Surat keterangan tersebut harus dikeluarkan oleh rumah sakit pemerintah dengan dokter yang ber-NIP. Mudahlah untuk mendapatkan surat keterangan sehat jasmani tinggal bawa badan aja nggak perlu mengerjakan soal. Lah yang rohani?

Jangan kira tes rohani itu kita carinya ke pemuka agama ya! LOL. Tes rohani = tes kesehatan jiwa. Waktu itu saya tes di Rumah Sakit Jiwa Provinsi Lampung.

Kalo mengingat saat-saat saya tes kesehatan jiwa itu rasanya rawwwrrrr. Capeknya karena kesel! Kayak kuingin marah melampiaskan tapi ku hanyalah sendiri di siniiiii. Kenapa? Karena para bakal CPNS semua lari ke RSJ Provinsi Lampung untuk mendapatkan suket sehat rohani, dan itu tiga ribuan lho. Ndilalah-nya rame banget di hari saya tes, membludak eymmm.

Waktu tempuh dari rumah ke RSJ kira-kira 45-60 menit. Saya berangkat pagi dan sampai sekitar jam setengah 8an. Kirain tergolong pagi karena pasti belum buka pendaftarannya. Eh ternyata rame bener dah bahkan waktu itu udah berlangsung tes kloter pertama. Peserta tes ternyata banyak yang menginap di masjid sekitar, sanak saudara, atau berangkat dinihari karena mereka datang dari jauh.

Jangan ditanya seberapa ramenya, pokoknya kita semua baris berdempet-dempetan, terus ada efek dorong-dorongan dari segala sisi. Sambil berada di tengah banyak orang, saya berusaha mendengarkan instruksi dari petugas yang hanya pakai megaphone (terus pake mic suara kurang jelas juga, eh pake megaphone lagi. Udah beberapa jam, barulah mic-nya jelas). Demi apa itu petugas ngomong apa gue kagak denger! Udah gitu instruksinya ganti-ganti. Pertama, disuruh baris dan pendaftaran dilakukan dari yang baris paling kanan. Saya ada di baris keempat. Tinggal sebaris lagi nih saatnya barisan saya yang nulis untuk mendaftarkan diri, apa yang terjadi? Instruksinya ganti lagi! Terus baris lagi dengan barisan baru yang udah acak-acakan dan saya ngantri harus menunggu giliran lagi. Kali ini jongkok cara antrinya 🙁 Bayangin aja, ngantri dengan jongkok, majunya ya jalan jongkok. Kayak disetrap 🙁 Sampe pada ngomong, belum tes aja udah gila ini. LOL 😆

Long story short, saya akhirnya tes jam setengah 2an siang (kloter keempat). Nggak kondusif banget pokoknya. Ngerjain pake papan ujian bukan meja, laper, kebelet pipis, capek. Untungnya di sana saya dapat temen ngeluh selama nunggu giliran tes haha. Pas-pasan juga kita sama-sama laper dan kebelet pipis waktu ngerjain soal. Ngerjain soalnya juga sampingan. Lucunya, kita ada beberapa nomor yang salah isi (kelewatan gitu deh) akibat kurang fokus lol.

Tes kesehatan rohani ini ada 567 soal. Dalam tes diberi satu lembar jawaban. Cara menjawabnya tinggal memilih (+) atau (-) dengan cara dilingkari (atau disilang, saya lupa). Memang beberapa pernyataan ada yang diulang. Lalu dalam menjawab, ada yang saya jawab memang benar yang saya rasakan/ alami, ada juga saya bingung jawabnya hahaha. Jenis soalnya kira-kira seperti ini (lupa kalimat tepatnya, intinya begini):

Saya merasa bahagia.

Saya merasa orang-orang membenci saya.

Saya tidak pernah melanggar peraturan lalu lintas.

Saya sulit menerima pendapat orang lain.

Saya jarang sakit kepala.

Nafsu makan saya baik.

Entah karena udah nggak konsen kali ya atau emang saya yang lama mikir, saya sering bingung sama pernyataan negatif: saya tidak pernah  melanggar peraturan lalu lintas. Duh, intinya saya itu pernah melanggar lalu lintas, tapi kalo pernyataan ada kata ‘tidak’ saya harus memilih (+) atau (-) di lembar jawabnya? Kayak gitu aja berasa mikir berat wkwk. Belum lagi kalau pernyataannya panjang, hmmmm.

Parah banget deh tes waktu itu, benar-benar nggak kondusif. Pihak rumah sakit pun bilangnya mereka nggak tau bakalan membludak karena tidak ada koordinasi dari pemerintah pusat. Ya begitulah sifat manusia, mencari kesalahan pihak lain. Padahal bukankah seharusnya mereka mengantisipasi hal seperti ini? Kan mereka sudah tahu waktu itu adalah masa-masa pemberkasan dan seminggu sebelum saya tes sudah ada bakal CPNS yang tes kesehatan rohani di sana yang artinya bakalan ada tanda-tanda kemembludakan peserta tes (waktu itu kata temen saya aja udah rame, ngantri panjang). Apalagi tes kesehatan rohani di Lampung ya cuma di situ.

Hasil dari tes kesehatan jiwa ini jelas. Diketahui di sana apakah kamu menjawab seluruh soal dengan lengkap, konsisten atau tidak, dan melaporkan apa adanya atau tidak. Jadi, jujurlah saat mengerjakannya dan jangan bingung kayak saya saat dihadapkan pernyataan negatif dan berkalimat panjang haha. Kalau hasil tes saya, sehat meski tertulis tidak melaporkan apa adanya wkwk tapi skor validitas masih valid kok ✌😆✌  Jadi hasil tes yang meliputi indeks kapasitas mental dan kepribadian dasar masih valid.

Biasanya (kalau saya baca-baca) setelah tes ada konsultasi dengan dokter perihal hasil tes. Tapi pengalaman saya sih enggak. Ya iyalah enggak, soalnya banyak banget yang tes.

Oh iya, biaya tes kesehatan jiwa ini (RSJ Prov. Lampung) Rp255.000,oo.

Begitulah cerita pengalaman saya saat tes rohani. Semoga bermanfaat!

 

Sharing is caring. Love,

 

 

credit featured image: https://www.businessadministrationinformation.com/news/fewer-people-are-taking-the-gmat-says-study

Sharing is caring, share this!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *