LIORA's JOURNAL review

Cieee Liora Punya KIA!

Pro to the good thing!

Entah, dua atau tiga tahun lalu saya dengar akan ada KIA, Kartu Indonesia Anak. Adik saya sempat ingin membuat KIA tersebut, tetapi pelayanan pembuatan KIA belum merambah ke kabupaten. Jadi harus ke provinsi untuk membuatnya. Ya sudah, diurungkanlah niat mama saya yang ingin membuatkan KIA untuk adik saya.

Long story short, ada suatu kesempatan saya pergi ke disdukcapil (Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil). Karena kalau ke disdukcapil kan jika perlu saja kan hehe. Awal Januari ini saya pergi ke disdukcapil untuk keperluan legalisir fotokopi KTP. Ya, seperti biasa: ramai. Setelah mendaftar untuk keperluan legalisir, saya jalan-jalan melihat fasilitas yang ada (itu pun karena tidak ada kursi kosong tersisa untuk saya sembari menunggu, saking ramainya). Ternyata ada yang berubah. Ada rak yang berisi brosur informasi mengenai pengajuan pindah, pembuatan akta, pembuatan KIA, dan lain-lain. Kebetulan nih saya penasaran dengan KIA apalagi sekarang pembuatan KIA bisa dilakukan di disdukcapil kabupaten.

Baiklah, kapan-kapan saya akan buat KIA untuk Liora.

Kurang lebih empat jam di disdukcapil, akhirnya yang saya butuhkan terpenuhi. Dan jeder! Di map yang berisi legalisiran fotokopi KTP saya, tersemat selembar biodata rekapan. Di situ status saya tertulis: Kawin Belum Tercatat. Oh syiiiit ini kenapa? Di saat sibuk urus berkas ke sana kemari dan ini apaan? Gimana kalau di kemudian hari dipermasalahkan? Lagian kok belum tercatat sih? Kalau tidak tercatat kok tau status saya sudah kawin? Gemas. Tandanya saya harus kembali ke disdukcapil dengan segudang kesabaran.

Esoknya, ya saya kembali lagi lah ke disdukcapil. Tentu dengan membawa syarat-syaratnya. Dan di kesempatan ini pula saya sempatkan membuat KIA untuk Liora. Sekalian aja gitu, mumpung ke disdukcapil kan.

Sekilas cerita mengapa status saya Kawin Belum Tercatat. Jadi, petugasnya bilang, “Berarti Mbak waktu mau ubah status tidak lampirkan akta nikah.” Di situ saya iya iya saja. Padahal, logikanya… Kalau tidak lampirkan akta nikah, kenapa status di KTP saya bisa berubah Kawin. Jadi saya berspekulasi kalau petugas bagian input data udah mengubah status jadi kawin-nya itu tapi lupa masukin data akta nikahnya, kali aja lho haha whatever.

Untuk mengubah supaya “Kawin Belum Tercatat” itu menjadi “Kawin” BelumTercatat, ya saya melalui proses ulang dengan melampirkan akta nikah (asli dan fotokopi), kartu keluarga (asli dan fotokopi), dan fotokopi KTP saya dan Putra. Dan jengjeng! Jadinya ganti KK gitu. Selain terubah dengan KK yang versi baru (ada tambahan kolom golongan darah), status saya dan Putra jadi Kawin Tercatat di KK. Lucu ada kata tercatat-nya wkwk. Ya sudahlah yang penting beres.

Di saat yang bersamaan, saya juga sekalian membuat KIA untuk Liora. Sebenarnya alasan terbesar membuat KIA adalah penasaran. Selain itu, saya juga mau jadi warga negara yang baik dong yang tertib administrasi cieelaaah karena saya mendukung #GISA. For your information, in case you are wandering about this. GISA (Gerakan Indonesia Sadar Administrasi Kependudukan) yang dideklarasikan di awal tahun 2018 merupakan Instruksi Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia No. 470/837/SJ. Saya sangat mengapresiasi pemerintah yang terus menghimbau masyarakat agar tertib administrasi demi Indonesia yang lebih baik, sampai tercananglah gerakan ini–GISA. Gerakan yang sadar akan pemenuhan hak warga negara untuk memiliki dokumen kependudukan ini pun disambut baik oleh daerah-daerah di Indonesia. 

GISA memiliki empat Program: 1) Sadar Kepemilikan Dokumen Kependudukan, 2) Sadar Pemutakhiran Data Penduduk, 3) Sadar Pemanfaatan Data Kependudukan, 4) Sadar Melayani Administrasi Kependudukan. Lebih jelasnya, bisa lihat di video ini. Keren Disdukcapil Bandung, isinya sangat tersampaikan dengan visual yang lucu wkwk.

Bagi negara, data kependudukan sangat penting. Jika sudah akurat, hal itu memudahkan pemerintah dalam memetakan program yang pastinya berpengaruh terhadap kemajuan suatu daerah. Tentunya yang akan mempercepat pencapaian tujuan negara: negara yang membahagiakan masyarakat.

Nah, salah satu bentuk kesadaran saya akan tertib administrasi (selain membenahi status yang belum tercatat tadi) adalah membuat KIA untuk Liora.

KIA merupakan kartu identitas resmi anak yang berusia di bawah 17 tahun dan belum menikah. Berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 2 Tahun 2016 Tentang Kartu Identitas Anak, pemerintah menerbitkan KIA bertujuan untuk meningkatkan pendataan, perlindungan dan pelayanan publik. KIA juga merupakan upaya pemerintah dalam memberikan perlindungan dan pemenuhan hak konstitusional warga negara Indonesia.

KIA terdiri dari dua jenis: KIA untuk usia 0 – 5 tahun (masa berlaku hingga berusia 5 tahun) dan KIA untuk usia 5 – 17 tahun (masa berlaku hingga berusia 17 tahun kurang sehari). Syaratnya pun sedikit berbeda. Syarat untuk pembuatan KIA di bawah 5 tahun: 1) fotokopi akta lahir dan membawa aslinya, 2) KK orang tua asli, dan 3) (fotokopi) KTP asli kedua orang tua. Untuk KIA di atas 5 tahun hanya tambahan 2 lembar pas foto berwarna ukuran 2×3 cm.

KIA ini juga sebagai bentuk pengakuan negara terhadap anak. Jadi harapannya ya setiap penduduk memiliki satu kartu identitas. Pemanfaatan KIA sejatinya sama dengan KTP yang dapat digunakan untuk persyaratan transaksi dan keperluan administratif seperti pemenuhan kelengkapan dokumen pendaftaran sekolah, imigrasi, membuat tabungan, dan lain-lain. Bahkan pemilik KIA di beberapa daerah bisa mendapatkan diskon di toko buku dan lembaga kursus. Selain itu, dengan adanya KIA juga sebagai bentuk perlindungan terhadap anak dari kekerasan bahkan perdagangan anak.

Baca juga: Lahiran Pakai BPJS (JKN-KIS)

Pengadaan KIA tetap berjalan perlahan tapi pasti meski menuai pro dan kontra. Kalau saya sih, tetap mendukung niat baik pemerintah. Gampangnya, tidak ada ruginya juga bagi kita kalau punya KIA. Ya… meski bagi anak-anak tidak terlalu urgent memiliki kartu identitas karena mereka masih ikut orang tua. Tapi toh tujuan pemerintah itu baik lho, secara psikologis, anak mendapatkan hak-nya sebagai warga negara, diakui sebagai bagian dari negara. Selain itu juga pemerintah punya cita-cita lebih besar, yakni dapat memetakan kebutuhan daerah melalui pendataan untuk kemajuan.

Memang, KIA tidak begitu mendesak untuk setiap anak memilikinya karena untuk hal dokumen pribadi, anak belum bisa bertanggung jawab atas hal itu. Misal, kalau bepergian dengan transportasi umum (kereta api atau pesawat) petugas tidak menanyai kartu identitasnya, lalu anak membuka akun bank tidak terpikirkan karena like untuk apa. Percuma juga punya KIA kalau fasilitas pendidikan (toko buku atau lembaga kursus) di daerah belum melek KIA. Eits, ini baru permulaan jadi belum maksimal, semua butuh waktu.

Saya bilang begini terlepas dari hal-hal kontra ya. Saya mah mau optimis aja lah 🙂 🙂 🙂

Begitulah tampilan data dari KIA. Kelihatannya lebih penuh dibanding KTP. Bedanya, kalau di KIA terdapat nomor kartu keluarga dan nama kepala keluarga. Di KTP, kedua hal tersebut diganti dengan status perkawinan dan pekerjaan. Terlihat lebih penuh karena ada penandatangan KIA oleh kepala disdukcapil. Oh iya ada barcode di balik jempol saya. 

DI situ tertera berlaku sampai dengan 2 Februari 2023 karena di waktu itu lah Liora genap 5 tahun. Jadi masa berlaku bukan dihitung sejak KIA dibuat. Di bawah kotak foto itu tanggal buatnya. Dan fotonya belum ada karena di bawah 5 tahun tidak perlu foto.

Begitu lah penampakan KIA yang unyu berwarna pink. Ehe. Imut juga. Semoga kelak bermanfaat.

 

 

Sharing is caring. Love,

 

 

 

Copyright: Text & Photo by marthagiotita La Young Mama

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *