MOTHERHOOD perspective tips

Mom-Shaming

Mom-shaming: Judging, criticizing, or degrading a mother for her parenting choices because they differ from the choices the shamer would make. (by Urban Dictionary)

Hasil gambar untuk mom shaming

Mengurus anak itu kompleks. Banyak pilihan yang bisa dipilih seperti gaya asuh misalnya. Tentu, ada ‘konsekuensi’ yang mengikutinya–konsekuensi menerima komentar dari orang lain baik komentar pujian hingga komentar mengkritik atau membandingkan gaya asuh. Di masa menjadi ibu untuk pertama kalinya, pasti banyak experienced mom yang dengan semangat memberi saran atas pengalaman yang terdahulu. Atau yang belum berpengalaman mengasuh anak juga bisa ikut berkomentar karena they already have ideal mind about parenting style.

Menjadi ibu baru bukan hal yang mudah lho. Perubahan fisik, rutinitas, hingga mental pasti terjadi. Ditambah, pengalaman baru mengasuh bayi secara naluri (ibu) dan otodidak. No school for being a mama, rite? Oleh karenanya, support dari orang terdekat sangat membantu ibu baru dalam menjalani peran barunya.

Sayangnya, orang terdekat malah relatif lebih sering melakukan mom-shaming: orang tua, mertua, dan saudara. Mungkin karena lebih sering menyaksikan keseharian dalam mengasuh anak. Saya perhatikan dari pengalaman saya, cerita pengalaman orang lain, hingga menyaksikan tetangga me-mom-shaming anaknya, mereka lebih membandingkan gaya parenting yang mereka lakukan di hampir 3 dekade lalu dengan sekarang. Padahal ilmu pengetahuan dan teknologi sudah berkembang pesat hehe. Yaaa bisa jadi niat mereka untuk sekedar sharing bahwa dahulu ‘begini’ saja baik-baik saja lho, eh sekarang malah tidak disarankan. (Seringnya sih gaya ngomongnya judgmental banget, menganggap gaya parentingnya dulu itu lebih baik karena sudah terbukti). Well, kembali lagi, semua tentang pilihan si ibu. Apalagi seperti saya ini, millennial parent who raises a yet-unknown generation child. Pasti berbeda dengan beberapa dekade lalu. (Belum tahu deh Liora ini masuk generasi apa. Setelah Z, generasi apa namanya?)

Selain orang terdekat, yang gak kalah seringnya, sesama ibu juga melakukan mom-shaming. Saya berpengalaman juga untuk hal ini. Saya pernah mencobakan Liora menggunakan empeng (dengan alasan tertentu). Beginilah percakapan saya dengan ibu yang anak ketiganya berusia lebih tua lima bulan dari Liora:

“Ih kok dikasih empeng sih?! Nanti mencret tau!”.

“Selama ini nggak mencret, tuh.” Nada nantang wkwk.

“Belum aja! Empeng kan bisa nggak steril hi.”

Padahal, masalah kesterilan itu sudah diatasi sejak awal mula si empeng hendak digunakan. Jadi, tutup empeng Liora dilubangin kecil untuk dimasukkan benang untuk dikaitkan dengan empengnya. Sehingga kalau tidak dipakai, langsung ditutup dan tutupnya jadi anti nyelip. Lagian saya rajin cuci dan sterilin. Kalaupun ada reaksi yang tidak bagus pada Liora pasti saya hentikan kok empengnya. Masa mencelakai anak sendiri dengan dibiarkan? (Malahan, ada reaksi tolak empeng dari Liora jadinya nggak jadi ngempeng wkwk.)

Rasanya rawr sekali dihardik seperti itu padahal saya udah sedia payung sebelum hujan itu diciptakan *eh*.

Lalu ada perkataan yang frekuensinya lumayan sering seperti intinya mengatakan kok Liora tidak mau dan menangis digendong orang lain (selain orang yang sehari-hari bersamanya). Dan yang paling wow, di depan beberapa orang, ada yang komentar sesaat Liora digendong ibu itu lalu menangis, “Nangisan ya. Kalau anakku enggak sih.” Lalu beberapa bulan kemudian ketemu lagi, “Masih nangisan nggak?” Ibu ini sih merujuk ke mompetition juga, soalnya anaknya dua minggu lahir lebih dulu dari Liora. Jadi mau menunjukkan anaknya lebih baik (mungkin?). Tapi saya sih tidak ambil pusing. Semua anak tidak bisa disamaratakan. Ibu itu working mom dan ada yang membantu mengasuh anaknya. Sedangkan saya masih stay at home mom yang seharian penuh bersama Liora. Tentu emosional Liora dan anak ibu itu beda kan? Bisa disimpulkan 🙂

WHY MOM-SHAMING HAPPENS

When being judged, I become more defensive and really want to explain why I’m doing it. However, I realize that no one will care! Mom-shaming is only to show off like “in the name of my experience, I am an expert” and “my parenting style is proven successful and at its finest”.

Well at the end, I choose not to explain reasons to anyone. My daughter will prove it all right and I am okay with my choices. 

10+ MOST COMMON TOPICS OF MOM-SHAMING

The topics are more likely about childcare decision and child safety such as:

💔 highlighted point: Gendongan, dijunjung baru meneng. Anak saya,  tetangga, tetangga yang satunya, ibu itu, ibu ini, semua berpengalaman bayinya digendong baru tenang, bahkan kalau yang menggendong duduk bisa nangis lagi si bayi. Biasanya terjadi di usia 2-4 bulan. Menurut saya itu fase bayi yang ingin didekap, bukan karena kebiasaan digendong. Nyatanya, setelah bisa tengurap, merangkak, merambat, dst. sudah tak ada lagi drama itu karena sudah banyak aktivitas yang dapat dilakukan si bayi. See? It’s only a phase. Don’t waste your energy to say that kind of thing!

💔 Breast/bottle-feeding

💔 Breast milk/formula milk

💔 Feeding method (ex. BLW/spoon feeding)

💔 Diet and nutrition

💔 Screen time

💔 Pacifier

💔 Disposable diapers

💔 Using talcum powder, telon oil

💔 Baby carrying (ex. using baby wrap for <6m)

💔 Swaddling cloths

💔 Way to discipline

💔 Co-sleep

and child growth such as:

💔 Habit

💔 Health

💔 Weight gain

It’s okay to give advice but not to leave hurtful remarks. Sometimes advice and suggestion make a mom has uncertain feeling of what she did to her child. So, back to your instinct. Mom’s instinct never goes wrong because mom knows her children best.

TIPS FOR DEALING WITH MOM-SHAMING

🌟 Be realistic. ‘Dipermalukan’ memang nggak nyaman dan berakhir merasa humiliated. Oleh karenanya, ingatlah bahwa mereka bicara seperti itu lha wong mereka bukan ibunya anakku jadi mereka tidak tahu kebutuhan utuh anakku, pantas ngomong by its cover. Saya sih balas dengan mengiyakan komentar yang terlontar dari orang bersangkutan, “Iya nih, nempel banget sama aku.” End. Kalau kebawa emosi ya seperti percakapan di atas tentang empeng itu wkwk. Dan harus diingat, kehidupan per-ibu-an memang sarat akan mom-shaming: jadi jangan baperan (awal-awal saya baperan haha). Face and embrace it!

🌟 Be confidentKita tidak punya kontrol atas orang lain yang melakukan mom-shaming terhadap kita. Sebaliknya, kejadian itu seharusnya membuat kita jadi lebih percaya diri dengan apa yang kita lakukan karena kita semakin jelas bahwa orang lain benar-benar tidak paham anak kita.  Mengasuh anak itu tidak ada standarnya. Jadi fokus dengan parenting style or skill yang kita miliki. Ilmu kedokteran atau pengetahuan dan pengalaman orang lain tentang mengasuh anak memang sangat bisa dijadikan referensi tetapi tetap utamakan memahami kebutuhan dan kondisi anak sendiri.

🌟 Be supportive. Menjadi korban mom-shaming adalah pengalaman yang menjengkelkan bukan? Rasanya pun menyakitkan. Alih-alih menjadi pelaku mom-shaming, lebih baik dukung dan memberi hal positif untuk dibagikan–membagikan pengalaman, bantuan, atau saran tanpa niatan mengritik atau menghakimi.

Note to remember (to myself as well): Respect the choice. Choice is chosen for a reason. Remember: There are 100 ways to raise amazing children and just because someone is doing it differently than us doesn’t mean they’re doing it wrong.”

Kebetulan di online shop baju hamil dan menyusui lagi bahas tentang omongan orang lain terhadap wanita hamil dan atau new mom. Dan banyak yang menjawab orang terdekat. Pembahasannya pun exactly what I’m telling about.

Be positive, be supportive. Love,

Copyright: Text by marthagiotita La Young Mama

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *