PERSONAL perspective

Pasangan Hidup: Di Tangan Siapa?

It’s my choice.

Tepat pada hari Sumpah Pemuda, “Nggak kerasa ya udah setahun!” Ucap Putra sambil senyum-senyum. Kubalas, “Kerasa ajaaaa.” Berusaha menyangkal pernyataan Putra. Padahal sebenarnya setuju banget.

Tidak ada perayaan yang spesial, kami hanya makan malam bersama di luar dengan kurang nikmat karena Liora rewel mengantuk *etdah. Ketika sampai rumah pun saya ikutan tidur sama Liora. Nggak ada momen ngobrol semalam suntuk sama Putra sama sekali. Karena kami bertiga sama-sama capek. Tak apa. Tahun ke depannya pasti semakin asik.

Meski umur baru sebenih jagung, kami sangat bersyukur satu tahun terlewati. Tepat di momen anniversary ini, saya terefleksikan dengan akankah saya tetap menikah dengan Putra jika kondisinya kami tidak pacaran bertahun-tahun. Baru ketemu saat kuliah, misalnya. Hmmm tergantung.

Berikut adalah menurut pemikiran saya. Kalau berbeda dengan kalian tak apa kan? Hehehe.

Sering sekali saya mendengar orang-orang mengatakan, “Ah sudahlah, jodoh kan di tangan Tuhan.”. Ungkapan ‘putus asa’ tersebut sering terdengar oleh orang yang baru saja putus atau belum (juga) menemukan yang cocok. Frankly speaking, saya bilang itu putus asa, yang belum apa-apa minta Tuhan ‘bekerja’ atas jodohnya tanpa mengusahakannya. Kalau diam saja emangnya bakal ada yang tiba-tiba muncul dan bilang “Tuhan mengirim saya untuk menjadi jodohmu.”? Malah horoooor.

Let’s think a bit deeper.

Jodoh berarti orang yang cocok menjadi pasangan hidup (menurut KBBI). Mudahnya, kalau tidak jodoh berarti tidak cocok. Pertanyaannya, cocok yang diharapkan itu cocok yang bagaimana? 100% cocok sama dengan maunya kita? Nah ini nih, dari pertanyan singkat ini bisa dilihat nih berarti keputusan terhadap siapa yang cocok menjadi jodoh kita ada pada siapa?

Ilustrasi: Lagi mengantre beli bakso (misalnya). Bisa jadi orang yang di samping kita saat duduk mengantre beli bakso adalah jodohmu! Tergantung apakah kita mengajaknya mengobrol dan end up asking her/his phone number, berlanjut ke jalan bareng dan selanjutnyaaa. Itu pilihan kita sendiri kan awalnya mau mulai mengobrol dengannya atau tidak. Apa yang akan kita lakukan, pilihan kita sendiri kan? Bahkan jika ada yang memintamu untuk pergi, perihal mau jadi pergi atau tidak ya berakhir pada pilihan kita sendiri.

Jadi hak menentukan pilihan sepenuhnya ada padamu dan bertanggungjawablah pada pilihan itu. Bisa jadi itu kehendak Tuhan untuk kita memiliki seseorang yang melengkapi hidup kita. Harapannya juga bukan terus menuntut untuk seperti maunya kita tapi terdewasakan dengan adanya ‘perkara’ di antara kita dan pasangan. Perkara ada banyak hal yang tak cocok dan memilih cari yang lain, itu pilihanmu 😀 Tapi nobody’s perfect. 

Baca juga: 3+ How to Deal with Relationship

Baiklaaaah, menurut saya jodoh itu di tangan kita sendiri. Tapi kalau aku mau sama kamu tapi kamu gak mau? Oke *cari yang lain*. Kelihatannya simple, tapi ketika dijalankan pasti sedihnya, galaunya, kesalnya bisa minta ampun wkwkwk. Kalau sudah punya pacar ya berarti… jodoh di tangan ‘kita’! ♥ Karena keberlangsungan sebuah hubungan membutuhkan usaha di antara dua orang yang menjalani hubungan itu, seperti 🎶 mau dibawa kemana hubungan kitaaaaaa 🎶

 

 

Be responsible of your choice!

Love,

 

 

 

Copyright: Text & Photo by marthagiotita La Young Mama

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *