My health is my wealth.

Jadi suatu hari Liora lemas. Tidak ceria. Juga, tidak mau tiduran di kasur. Badannya mulai hangat. Waduh, tanda-tanda ini. Saya ingat betul waktu itu Liora genap 6 bulan. Saya sedih. Pokoknya saya inginnya Liora itu jauh-jauh dari sakit. Sebenarnya ya Liora memang tidak mudah sakit. Bahkan pasca vaksin pun Liora tidak mengalami demam, hanya rewel ringan di sore harinya saja. Namun realita terkadang tidak berbanding lurus ya dengan ekspektasi. Dan Liora demam untuk pertama kalinya.

Saya galau. Apa yang salah ya hingga Liora mulai demam seperti ini. Dipikir-pikir, tidak ada yang ganjil dari rutinitas seminggu belakangan. Saya mulai cek seluruh tubuh Liora untuk mencari keganjilan. Tidak ada. Aha! Saya saya langsung cek gusinya. Siapa tau, demam ini karena si gigi menunjukkan kehadirannya. Memang, ada yang berubah dari gusi Liora. Ada warna putih di gusinya dan hanya di bagian dua ruas gusi tengah-bawah. Saya senang dong. Siapa tau eh siapa tau ya, demam karena ini bukan yang lain.

Jadi, dugaan awal saya perihal demam ini adalah mau tumbuh gigi.

CIRI-CIRI DEMAM yang dialami Liora:

✦ Tidak nafsu minum.

✦ Lesu saat diajak bermain.

✦ Susah tidur.

✦ Mulut kering.

✦ Bibir merah (malah tidak pucat).

✦ Rewel.

✦ Badan hangat.

 

PERTOLONGAN PERTAMA DEMAM pada Liora:

Susui – Untuk terhindar dari dehidrasi dan meningkatkan kembali daya tahan tubuhnya, Liora rajin saya susui. Berharap dengan saya menyusui Liora, Liora ‘tidak jadi sakit’.

Gendong atau peluk, buat si kecil banyak istirahat – Bayi sakit butuh perhatian khusus. Pasti ada rasa aman bagi si kecil kalau berada di pelukan ibunya. Jadi, saya rela menggendong Liora lebih lama. Apalagi kalau diajak tidur di tempat tidur, susah sekali tidurnya. Sedangkan kalau digendong dengan kain jarik, pundak pegel sebelah, makanya saya gendong Liora menggunakan stretchy baby-wrap. Liora pun lelap dan lumayan lama tidurnya.

Buat home remedy – Untuk menjaga tubuh Liora supaya tidak kedinginan, saya parut dua siung bawang merah lalu ditambahkan minyak goreng. Setelah itu oles seluruh tubuh secara merata. Kalau Liora rewel karena indikasi tidak enak badan (bukan sakit karena berlangsung beberapa jam saja nggak sampai seharian bahkan lebih dari sehari), dikasih racikan itu keesokannya langsung sembuh. Liora mriang ‘pasti’ setelah kena hempasan angin dari kipas atau kipas angin atau udara sepoi-sepoi. Nggak sampai demam sih, tapi rewel-rewel kecil gitu. LOL. Kayak saya yang mudah masuk angin kena kipas angin hahaha. Kita emang tim anti kipasan😅

Setelah melakukan tiga hal barusan, hangat tubuh Liora berkurang. Tetapi tidak serta merta hilang. Malah rasanya kok seperti naik turun suhu tubuhnya. Akhirnya saya cek menggunakan termometer. Sebenernya hampir lupa kalau punya termometer. Ckckck saking percayanya demam Liora akan segera reda. Tapi, melihat hasil termometernya, lumayan bikin saya panik juga karena suhunya mencapai 38 derajat Celcius! Saya langsung cek seluruh tubuh Liora apakah ada hal yang tak biasa. Tidak ada apa-apa. Cukup lega. Tapi akhirnya pertahanan saya untuk tidak memberi paracetamol runtuh juga. Saya memberikan paracetamol karena takut juga sih udah setinggi itu. Liora pun terlihat lesu banget. Tapi memberi paracetamol bagi saya bukan pertolongan pertama. Ini saya beri karena mencapai 38 😟

Kaget ternyata mencapai 38 derajat!
Lesu… Bibirnya merah.

✦ Kompres air hangat – Sorenya, saya tidak memandikan Liora, hanya lap-lap dengan waslap dengan air hangat. Lalu saya pakaikan baju hangat dan saya kompres meski Liora tidak tidur. Lucu sih ekspresinya waktu saya taruh handuk kecil dengan air hangat di dahinya. Lama-lama ya Liora ambil dan untuk mainan. Sampai akhirnya Liora benar-benar tertidur, saya tetap mengompresnya dan suhunya berangsur turun. Setiap bangun di tengah malam untuk menyusu, saya kompres lagi dengan air hangat.

Di hari kedua, Liora masih saja demam meski semalam sempat turun. Di hari kedua ini saya memandikan Liora kembali. Alasannya? Supaya Liora merasa tubuhnya segar dan menstimulasi untuk semangat, yeay! Penanganan untuk Liora masih sama, yakni saya masih sering menyusuinya dan menggendongnya supaya hangat. Dan untuk memudahkan pengompresan, saya mengompres Liora dengan Bye Bye Fever yang didinginkan di kulkas. Lumayan membantu meski tidak benar-benar membuat si fever pergi. Tapi cukup membuat Liora terhibur karena sesekalinya diambil dari dahinya lalu dilempar hingga berkali-kali.

Demam hari keduanya tidak jauh berbeda dari hari pertama. Tetapi sepertinya Liora mulai beradaptasi dengan demamnya sehingga tidak begitu rewel dan biasa saja. Di sore hari setelah mandi pun Liora mulai ceria, mau bermain dan guling-guling di tempat tidur. Lalu saya cek suhunya, malah naik 😭 Herannya, Liora malah semakin ceria.

Asik sendiri mainan teether sambil babbling.
Ditengah suasana hati yang ceria, hampir 39 derajat!
OMG! Hampir 39 derajat!

Lalu saya beri paracetamol lagi dan terus menyusui Liora dan mengompres dengan Bye Bye Fever.

Keesokan harinya, tepat tanggal 4 Agustus 2018 adalah jadwal Liora vaksin Infanrix (DPT, HIB, Polio, dan Hepatitis B). Dan saya panik! Pagi-pagi saat mau mandi, tubuh Liora penuh bintik-bintik merah! Untunglah hari ini adalah jadwal Liora ke dokter jadi saya panik nggak berkepanjangan.

Saat diperiksa oleh perawat, demam Liora sudah turun. Kalau tidak salah suhu tubuhnya 37 derajat dan itu normal. Memang ajaib padahal semalam tinggi. Sepertinya karena Papa Putra mau pulang, deh! Siangnya kan sampai rumah. Ckckck demam karena rindu, Li?

Vaksinasi Liora harus ditunda karena masih ada jejak demam dan adanya bintik-bintik merah efek dari demam. Paling tidak, minggu depan bisa vaksin. Dokter tidak menjelaskan dengan rinci, hanya menjelaskan hal ini wajar setelah bayi mengalami demam. Dalam beberapa hari akan menghilang. Lalu dokter meresepkan obat untuk membantu meredakan bintik merah yang ada di sekujur tubuh Liora. Sepertinya tidak gatal karena Liora tidak berusaha menggaruknya.

Obat yang diresepkan DSA Liora

Sekali diminumkan setelah pulang dari rumah sakit, bintik merahnya hilang! Ajaib. Dan tidak lama kemudian Papa Putra yang mengalami delay baru sampai di tengah hari. Padahal biasanya jam 10 pagi sudah sampai rumah. Pas banget ya Papa Putra pulang, Liora sembuh. Ini karena rindu sepertinya! Hahaha dan sepertinya demamnya bukan karena tumbuh gigi ya. Soalnya sampai sekarang belum ada gigi yang nongol tuh! Mama Tita ke-ge-er-an!

Sore harinya pun Liora udah mesra-mesra-an sama Papa Putra. Dan lihat, bintik merah sudah tak ada hihi. Meski Mama Tita nggak dimesrain Liora dan udah lama nggak mesra-mesraan sama Papa Putra, hati tetap senang–Liora sembuh, yeay!!!

Bakat romatis nih Liora
Terus berusaha bangunin Papanya
Dan akhirnya dapet kiss!

Saya? Jadi penangkap momen mereka saja 🤣🤣🤣

Sharing is caring. Love,

 

 

Copyright: Text & Photo by marthagiotita La Young Mama