pregnancy & birth tips

Lahiran Pakai BPJS (JKN-KIS)

Facilitation is the art of stimulating deeper understanding, fresh thinking and behavioral transformation. – The integral framework for facilitation

Memasuki usia kehamilan ke-8 bulan semakin membuat saya lebih siap diri. Tidak hanya siap ‘mental’ untuk menghadapi persalinan atau pun siap perlengkapan yang dibawa saat persalinan. Yang tak kalah penting, biaya persalinan. Jujur saja, sebenarnya saya tidak tahu pasti biaya persalinan dengan segala caranya (vaginal-normal spontan, Sectio Caesarea, dll.). Pernah saya membaca sharing para mama tentang biaya persalinan. Berbeda-beda karena biaya juga dipengaruhi oleh jenis rumah sakitnya. Yang pasti, biaya persalinan vaginal-normal yang paling ekonomis.

Dan karena hamil, saya baru tahu bahwa melahirkan bisa gratis, tanpa biaya! Caranya? Menggunakan fasilitas BPJS Kesehatan. Saya kira dengan menjadi peserta BPJS Kesehatan JKN-KIS (Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat) kita hanya bisa memanfaatkannya kalau sedang sakit, ternyata melahirkan bisa menggunakan BPJS (karena hamil-melahirkan bukanlah sebuah penyakit). Sungguh, BPJS sangat terasa manfaatnya bagi kita yang membutuhkannya.

KETENTUAN menggunakan BPJS untuk melakukan persalinan di rumah sakit:

“Melahirkan tidak harus di rumah sakit.” Pernyataan ini dikatakan langsung oleh dokter saya setelah saya mengutarakan bahwa saya berkeinginan melahirkan menggunakan BPJS. Seperti yang kita tahu bahwa untuk dapat mengunakan layanan BPJS di Faskes (fasilitas kesehatan) Lanjutan yaitu rumah sakit, harus membawa surat rujukan dari Faskes 1. Mengapa? Karena pada umumnya sudah ada tenaga khusus pada Faskes 1 kecuali memang ada yang belum memadai dari segi fasilitas pasien dan tenaga medis (dokter, perawat, dll,). Sedangkan surat rujukan itu artinya penyerahan tanggung jawab dari Faskes 1. Jika persoalan seorang pasien tidak dapat diselesaikan di Faskes 1, maka Faskes 1 akan memberikan rujukan kepada Fakses Lanjutan (rumah sakit). Jadi, kalau ingin melahirkan di rumah sakit, harus mengantongi surat rujukan. Kalau kondisi kehamilan tidak ada kendala, surat rujukan tidak bisa kita peroleh sebagai bekal ke rumah sakit. Kecuali ada keadaan darurat saat hendak melahirkan dan langsung dilarikan atau melarikan diri ke rumah sakit.

Di masa kehamilan saya, saya tidak pernah mengalami kendala apa pun. Tetapi, saya ingin melahirkan di rumah sakit dimana dokter kandungan langganan saya praktek. Merasa aman aja gitu. Apalagi ini kehamilan pertama. Kalau saya tiba-tiba datang ke Faskes 1 untuk meminta rujukan lahir di rumah sakit, pasti tidak lolos karena saya bisa melahirkan di Faskes 1. Namanya juga ingin ada rasa aman melahirkan bersama dokter langganan hihihi, meski ternyata saat lahiran saya hanya didampingin bidan–banyak bidan malahan wkwkwk. Dokter menjelaskan bahwa dalam keadaan darurat, bisa tanpa rujukan. Dikatakan darurat misalnya ketika datang ke rumah sakit, dicek sudah bukaan 4.

Baca juga: (Saatnya) Si Kecil Tiba!

Faktanya saat saya tiba di rumah sakit, baru bukaan 3. Sempat terlintas pulang dulu, nanti datang lagi wkwkwk. Tetapi bidan mengatakan saya bisa menggunakan BPJS karena bayi lahir lebih dari perkiraan lahir yang jatuh pada 2 Februari 2018 dan saya melahirkan pada 3 Februari 2018. Hanya H+1 sih. Tapi itu bisa dijadikan alasan. Baiklah, berarti saya tidak jadi pulang hehehe.

SYARAT menggunakan BPJS untuk persalinan di rumah sakit:

Syarat yang saya infokan berlaku di tahun 2018 ketika saya melahirkan (syarat bisa berubah sewaktu-waktu). Paling tidak ini dapat dijadikan acuan karena menurut saya sih (tetap deh) syarat bakal tidak jauh berbeda alias itu-itu aja hehe. Berikut syaratnya: 1) 2 lembar fotokopi kartu BPJS, 2) 2 lembar fotokopi KTP, 3) 2 lembar fotokopi kartu keluarga, dan 4) surat rujukan dari Faskes 1, yang mana dalam pengalaman saya, saya tidak melampirkan ini tetapi melampirkan 2 lembar fotokopi USG terakhir.

Jadi, saya melahirkan tanpa biaya! Tetapi nih, saya ada bayarnya juga ding. Bayar benang yang digunakan untuk menjahit perineum (area di antara vagina dan anus) karena kata bidan yang menjahit episiotomi (sayatan yang dibuat di perineum untuk menambah lebar jalan lahir bayi), saya menghabiskan dua rol benang! Jadi kalau ditanya saya berapa jahitan, jawabannya banyak, luar dalam! Hahahaha. Kalau jahitan tidak banyak, seharusnya tidak perlu membayar benang.

Oh iya, saya juga bayar untuk Liora (imunisasi pertama dan perawatan baru lahir) karena Liora belum didaftarkan BPJS. Sebenarnya pihak rumah sakit melayani pendaftaran bayi baru lahir. Berhubung Liora lahir di hari Sabtu, harus menunggu Senin lalu suami diminta Senin datang lagi ke rumah sakit. Setelah dipertimbangkan, diputuskan Liora didaftarkan sendiri saja. Oh iya, sebenarnya bisa lho mendaftarkan BPJS saat bayi dalam kandungan. Daftarkan saja!

Jadi, dengan BPJS melahirkan itu gratis!

Demikian sharing saya tentang lahiran menggunakan BPJS. Semoga bermanfaat ya! Kalau terfasilitasi, kenapa tidak untuk dimanfaatkan, bukan? Thank you for reading, have a nice day!

Sharing is caring. Love,

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *