FAMILY LIORA's JOURNAL pregnancy & birth

(Saatnya) Si Kecil Tiba!

photosource: pinterest

A memory which lasts forever. 

Perkiraan si kecil lahir adalah tanggal 2 Februari 2018. Tetapi, si kecil biasa saja, aman di dalam perut. Bersamaan dengan pergerakan bapaknya yang siap-siap pulang ke Pringsewu dari Cikarang sekitar pukul 02.00 WIB, si kecil juga melakukan pergerakan di waktu yang sama, sehingga membuat mamanya geringgingan alias seperti demam dan bagian bawah terasa nyeri. Ya, entah kebetulan atau mereka memiliki ikatan batin yang kuat. Terlebih, minggu-minggu sebelumnya suami selalu bilang pada si kecil untuk lahir di weekend supaya bertepatan dengannya pulang.

Baca juga: (Tanda) Si Kecil Tiba!

Nampaknya 3 Februari 2018 akan menjadi tanggal lahir si kecil. Pukul 11.00 WIB suami akhirnya tiba di rumah sakit. Mama saya yang menunggui saya sejak pagi (dengan disambi mengurus BPJS ke sana kemari), akhirnya digantikan oleh suami. Langsung saya minta suami untuk bilang ke si kecil intinya supaya cepatlah ndesel-ndesel ke bawah (agar bukaan semakin besar) biar segera lahiran. Suami langsung melakukannya. Setelah mengalami fenomena lahir di weekend seturut ingin suami, saya percaya aja bahwa si kecil nurut apa kata bapaknya. Hehehe.

Baca juga: Lahiran Pakai BPJS (JKN-KIS)

bukti suami menemani lahiran hahaha

Lalu, seingat saya, setelahnya saya briefing suami untuk pijat dan elus pinggang saya jika si kontraksi datang. Supaya nggak clueless wkwkwk. Abisnya kadang tuh kurang peka ya laki-laki. Meski udah dikasih tau ‘sebelah sini’ tetep aja melenceng kemana-mana mijet dan ngelusnya. Ketika kontraksinya lagi pergi, saya pakai untuk merem, mencoba tidur. Menunggu bukaan bikin ngantuk euy. Suami saya aja juga tidur. Makanya, saat kontraksi datang, suami mijet dan ngelus pinggangnya nggak pas deh karena kelabakan. Kena semprot gue deh suami. Maaf, ya sayang ❤

taken by suami

Gimana sih rasa kontraksi? Rasa kontraksi menurut saya itu seperti gelombang (beraliran listrik) cinta yang berpotensi tsunami. Begitu kuat dan nyetrum! Mules yang kebangetan, tapi bukan mules karena kepedesan. Mules seperti lagi mens, tapi itu gak seberapa bahkan nggak ada apa-apanya. Ketika kontraksi datang, rasanya pengen buang air besar karena ada tekanan ‘ngeden’ dari dalam sana. Berkali-kali saya ke toilet karena rasanya seperti ingin pupie. Jalan menuju toilet saja bagian ‘situ’ perih banget rasanya. Saya tau bahwa saya tidak literally kebelet pupie. Tapi jaga-jaga kalau-kalau ada yang keluar. Keringat bercucuran pula karena kontraksi, ditambah kontraksi di tengah jalan menuju toilet dan menahan sakitnya. Alhasil badan terasa pliket alias lengket (liat dokumentasi artis-artis mau lahiran, mereka tetap aja cantik. Nah gue? Rambut lepek, wajah berminyak, pokoknya kuchel euy!) Ya begitulah kontraksi, semoga bisa dibayangkan ya :p Tips satu-satunya saat diterpa kontraksi: tarik hembus nafas berkali-kali supaya rileks.

Ini ada sebuah artikel yang mencoba menjelaskan seperti apa rasa kontraksi dari wanita yang berpengalaman melahirkan: Baca.

mumpung kontraksi lagi pergi, bisa senyum wkwkwk

Nah, alat CTG yang terpasang di perut saya terus mendengungkan suara detak jantung si kecil. Ada saat detak jantung itu berhenti! Bidan langsung datang dan mengecek, lalu dengan wajah sedikit gemas, “Coba melumah, Mbak. Supaya bayinya dapat oksigen. Soalnya bayi sudah mulai ke bawah banget.” Jadi, saya suka banget miring ke kiri. Rasanya ketika kontraksi datang, dengan miring ke kiri dan agak menggeliat sambil juga meremas-remas tiang infus atau meja yang keras itu, sakitnya kontraksi berkurang… dikit. Kadang miring ke kanan, lalu mendapati suami dan rambutnya saya embat saat kontraksi. Daripada menyakiti, makanya saya lebih suka miring ke kiri (alasan aje ye). Saya ngeyel, “Kalau melumah sakit banget.” Memang, saya merasa sakit meski tidak kontraksi jika melumah. Kalau melumah si kecil menggeliat di perut bikin sensasi gitu deh. Penuh drama yaaaaa. Ya maklum perut udah besar banget sampai-sampai, ada seorang dokter (lupa dokter apa pokoknya beliau dokter yang bertanggungjawab di ruang tindakan lahiran, entah namanya apa deh) mampir dan tanya, “Wah anaknya kembar ya?” Tanyanya sembari mengelus perut saya. Sambil meringis, “Ini cuma satu, Dok.” Dokternya agak kaget campur malu gitu deh. Hahhahaha. “Lah besar banget (perutnya).”

Pukul 16.30 WIB. Bidan datang dan bilang akan cek bukaan setengah jam lagi. WHAT? Rasanya seperti trauma, nggak mau dicek bukaan deh, takut! Mendadak jadi cemen, setelah melalui drama kesakitan yang makin lama makin lebih sakit. Jarak kontraksi semakin tipis. Baru aja kontraksi, entah berapa detik kemudian udah dateng lagi aja.

JLEB! Saat di cek, suami mendikte saya untuk tarik-hembuskan-tarik-hembuskan nafas supaya rileks. Sakit apalagi jalan lahir rasanya nyeri dan perih gitu. “Gimana, Mbak? Berapa, Mbak? Berapa?” Saya tanya membabibuta karena rasanya pengen YOK KELUAR SEKARANG, NAK! Hahaha. (Btw, saya manggil bidan-bidannya dengan ‘mbak’ karena masih muda-muda.) “Sudah bukaan besar. Bukaan 8.” Mendengar jawabannya saya merasa semangat, dua lagi saatnya saya melahirkan maka sudah tak lagi kurasakan si kontraksi ini!

Nah detik-detik akhir nih saya mulai cerewet, bawel, galak, sensitif, dan begitulah. Kontraksi rapet banget. Dari dalam ada rasa ngeden. Bukan saya lho yang ngeden. Jadi seperti dorongan dari bayinya. Beginilah percakapan saya dengan mbak bidan:

“Mbak udah mau lahir ini!” Rintih saya. Agak lucu inget momen ini karena ke-sok-tau-an saya.

Mbak bidan dengan santai sambil mengisi berkas-berkas dan menulis (yang saya tidak tahu) menjawab, “Belum, Mbak. Tarik nafas yuk. Bapaknya bantu.” Saya merasa ini darurat, tapi si mbak bidan biasa aja. Mungkin sudah memaklumi perilaku ibu melahirkan, apalagi yang bawel seperti saya.

“Mbak ini kok udah ngeden-ngeden???”

Dengan santai lagi mbak bidan jawab, “Belum boleh ngeden ya.”

“Lha dari dalamnya yang ngeden Mbak!!!” Dan kontraksi hebat bersamaan ngedenan dari dalam muncul. Suami semakin mendekatkan diri ke saya dan membantu saya untuk teratur menarik-hembus nafas. Lalu saya emosi dengan suami. “Tarik nafas melulu! Ini sakit tau!” See? Di saat sakit aja saya bisa meromet. Kebangetan emang! Suami emang top, dia tetap sabar. Love you full.

“Mbak! Ini beneran mau keluar! Ngeden terus!” Saya teriak di tengah edenan.

“Mas-nya dibantu ya istrinya untuk tarik-nafas. Belum boleh ngeden.” Saya dicuekin sama mbak bidan yang mulai beres-beresin berkasnya.

“Emang kenapa kalo ngeden???”

“Nanti jalan lahirnya bengkak malah susah ngelahirin. Lagian belum pecah ketuban.” Widiwww ngeri juga kalau bengkak.

“Emangnya nggak bisa lahiran kalau belum pecah ketuban???” Cerewet bener dah gue. Masih aja menghujani pertanyaan mbak bidan.

Mbak bidan menjawab tapi saya lupa jawaban pastinya karena yang saya ingat itu sudah puncaknya saya merasa sakit dan tiba-tiba merasa ada basah-basah.

“Sudah pecah ketuban,” kata mbak bidan itu dan bidan-bidan lainnya datang. Kira-kira ada empat atau lima bidan mendekat. Saya diaba-aba cara melahirkan.

Saya kira kaki mengangkang ada tempat ngangkangnya. Ternyata saya sendiri yang mencangking kaki dengan tangan. Tangan kiri mencangking kaki kiri, tangan kanan mencangking kaki kanan. Lalu saat mengejan tidak pakai teriakan seperti yang di sinetron-sinetron. Mengejan seperti saat buang air besar.

Lalu masih saja saya bawel, “Kaki saya pegel, lah Mbak!” Memang pegal, rasanya seperti mau kram. Lalu ada dua bidan di kanan kiri yang pinggangnya menjadi topangan kaki saya. Tapi yang kiri cuma dipegangin sama mbak bidan. “Mbak kaki kiri saya pegel,” minta ditopangin.

“Saya nggak bisa, Mbak. Lagi hamil.” Wadawww!

“Mbak cari yang lain aja ini saya bener-bener pegel.” Sumpah, inget ini saya merasa kebangetan. Tapi wajar nggak sih? Enggak ya? 🙁 Akhirnya diganti mbak bidan lainnya.

Posisi sudah enakan, saya pun mulai melunak, tidak setegang sebelumnya. Lalu saya sadar, lho kok tidak ada Dokter Lita? “Ini nggak ada Dokter Lita, Mbak?”

“Enggak. Apa Mbak-nya request ditangani dokter?”

“Ah enggak Mbak. Sama siapa aja nggak papa.” Jadi saya menyimpulkan bahwa kalau tak ada kendala, ditangani bidan. Dan saya pun tidak masalah. Lagipula saya sudah ada chemistry dengan bidan-bidan yang ada sejak pagi wkwkwk. Lalu, dimulailah detik-detik yang saya tunggu. Dengan aba-aba kalau ada dorongan dari dalam, saatnya saya mengejan sekuat tenaga, tidak pakai teriak-teriak, dan tidak boleh merem, tetap melihat pada perut. Begitulah aba-abanya.

Baru mulai mau melahirkan, tiba-tiba saya diinfus cairan NaCl. Tujuannya agar persalinan lancar karena dapat menjaga kecukupan cairan saat proses lahiran yang melelahkan. Saat mau ditusuk jarum, saya sempat-sempatnya, “Mbak nusuknya pas lagi nggak ngeden ajaaaaa.” Saya takut hahahha. Belum pernah diinfus sama sekali sih jadi agak parno aja gitu. Takut saya tidak fokus, tangan saya gerak-gerak terus tidak menemukan nadi yang tepat dan ujung-ujungnya salah tunyuk 😀

Pada proses mengejan, sempat mengalami si kecil masuk lagi ketika kepalanya sudah nongol. Masuk lagi karena dorongan ngeden dari dalam hanya sebentar, jadi saat saya mengejan, si kecil berhenti mendesak keluar. Memang, disarankan kalau dorongan si kecil dari dalam belum besar, tidak usah mengejan dahulu karena nanti berhenti di tengah jalan dan si kecil bisa balik lagi ke dalam. Maka, saat melahirkan ibu mengejan ketika si kecil mendesak keluar dan dorongan itu terasa makin kuat dan kuat.

Saat saya merasa dorongan dari dalam semakin kuat, saya mengejan sekuat tenaga. Dan semua berkata, “Bagus, sudah keluar kepalanya.” Saya semakin semangat dan ingin segera melihat si kecil. Selama saya mengejan, ada mbak bidan yang berkata, “Sebentar lagi, terus. Ayo, sedikit lagi.” Dengan bantuan seorang bidan mendorong perut bagian atas, saya mengejan dan…

Pukul 17.25 WIB, si kecil lahir… Terima kasih, putri kecil dan suami yang selalu support dari proses kontraksi… We made it!

Lalu si kecil langsung skin to skin dengan saya di saat semua bidan sibuk entah saya tidak memerhatikannya. Yang jelas saya bisa melihat si kecil yang lucu nan menggemaskan. Dan tepat saat ditaruh di atas saya, si kecil pupie. Such a good girl.

Dari momen ini, saya menyimpulkan bahwa lahiran itu bertiga. Di samping ibu yang berjuang melahirkan, ada ayah yang setia menunggu dengan membantu ibu supaya tetap rileks, dan si bayi yang di dalam sana berjuang untuk keluar melihat dunia. Bentuk kerja sama yang kadang tidak terpikirkan oleh kita.

Ya… I would never forget this day. The day when me and my husband turned as parents.

Terima kasih telah membaca, semoga bermanfaat!

Love,

 

 

PS: Antara saya, suami, dan para bidan no hard feeling. Kebawelan saya seakan sudah terlupakan. Saya salut pada bidan yang bersikap tenang. Sebenarnya pasti ingin memberi pesan pada ibu yang hendak melahirkan bahwa semua akan baik-baik saja. Saya juga bangga dengan suami, karena tetap tenang mendampingi saya selama lahiran. (Tenang beneran nggak ya? Wkwkwk lain waktu ingin minta suami take over website ini dan menulis tentang pengalaman lahiran dari sisi suami hihihi). Mungkin karena saya tegang dan panik ya. Apalagi ini kali pertama. Atau saya saja yang berlebihan dan kebangetan? Ya begitulah saya saat melahirkan. Semoga postingan ini memberi pelajaran bahwa saat melahirkan jangan seperti saya (hahaha) Tenang dan rileks ya! That are the key! Nikmati setiap momen karena ini momen langka ya kaaaan. Saya menikmati setiap momennya, makanya saya ingat betul kronologis melahirkan 6 bulan lalu. Hihihiiii.

1 thought on “(Saatnya) Si Kecil Tiba!”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *