pregnancy & birth

(Tanda) Si Kecil Tiba!

photosource: pinterest

Enjoy the process.

Tanggal 2 Februari 2018, hari yang mendebarkan buat saya. Kenapa? Itu HPL si kecil!!! Oh my God! Sudah tepat 40 minggu alias 280 hari si kecil di perut! Seharian saya memusatkan indera perasa ke bagian perut dan jalan lahir. Apakah ada tanda-tanda? Kontraksi? Pecah ketuban? Mules? Duh, kayak mana itu rasanya??? Cek apa ada yang rembes? Duh, ketuban itu kayak apa? Mules? Mules yang kayak mana? Mules kepedesan atau gimana? Ngeflek? Kok aku nggak ngeflek ya padahal udah HPL? Atau aku nggak pake ngeflek tanda mau lahirannya? Ya… semua pertanyaan itu dijawab oleh waktu. Tanya mama saya, mama saya jawabnya santai aja gitu, “Kalo kontraksi itu perutnya kerasa kenceng. Kalo pecah ketuban rasanya ada yang ngalir. Kalo mules, ya mules kayak biasa.” Dan jawaban itu tidak melegakan. Kenapa? “Mama lupa rasanya. Pokoknya sakit aja gitu.” Kata mama saya pada akhirnya. Tuh kan!

Tapi memang lho, mau seberapa sering tanya pada ibu yang berpengalaman melahirkan, dokter, dan google sekalipun, tentu buat calon ibu terus bertanya-tanya sampai akhirnya jawaban yang paling memuaskan adalah “inilah saatnya”. Misalkan, dulu saya cari informasi tentang kontraksi. Ya, kontraksi itu bisa dibilang alarm yang diberi si kecil pada si ibu kalau ia siap keluar. Masalahnya, alarm itu bisa aja palsu. Nah loh alarm kok palsu? Bisa kebayang nggak kalau kita pasang alarm, bunyi, terus ternyata itu alarm tetangga? Bikin panik ya! Nah begitu lah kalau dapat kontraksi palsu atau braxton hicks. Terus, kontraksi palsu itu gimana rasanya? Meski baca banyak sumber, tetap saja “Kayak mana rasanya? Rasanya kayak gini bukan?” (Ngelus perut terus orang di sekitar respon: Mana gue rasain, hamil juga kagak!). Akhirnya saya putuskan kontraksi palsu itu cirinya perut terasa kencang.

Sebenarnya saya tidak begitu cemas mengapa sudah HPL tapi belum juga ada tanda-tanda. Lagipula kandungan cukup usia itu adalah 37 -42 minggu. Kurang dari itu disebut premature dan lebihnya disebut postmature. Nah, yang saya cemaskan adalah bagaimana kalau di tengah malam tiba-tiba mau lahiran atau saat saya sedang pupie (re: buang air besar) atau saya sedang tidur atau atau atau. Nah, karena si kecil belum ada tanda-tanda mau keluar sama sekali, saya kontrol ke dokter, Dokter Lita ditemani mama (Long Distance Marriage sama suami, karena suami di Cikarang).

Setelah cekie-cekie, dokter menyatakan bahwa air ketuban memang menipis karena tubuh janin yang sudah membesar. Apalagi, dihitung dari diameter tubuh si kecil melalui USG, beratnya sudah 3.5 kg! Itu belum termasuk kepala karena kepala si kecil sudah di bawah dan tidak terjangkau alat USG. Lalu, di layar USG sudah terlihat titik-titik putih yang artinya mulai keruh. Keruh wajar karena usia kandungan yang sudah cukup maka sistem pencernaan si kecil mulai sempurna bisa jadi si kecil mengeluarkan kotoran. Tidak usah khawatir, selama air ketuban belum pecah, ia akan baik-baik saja. Jadi intinya semuanya baik-baik saja. Plasenta juga masih sangat bagus dan masih mengirim nutrisi dengan baik ke si kecil. Hal itu diketahui dari detak tali pusar yang bisa diperdengarkan melalui alat USG. Detaknya masih stabil dan lumayan cepat, artinya masih bagus. Lalu dokter bilang, “Tidak apa-apa. Saya confident sampai seminggu ke depan kalau belum lahir. Selebihnya nanti kontrol lagi.” Legaaa setelah kontrol. Yang terpenting si kecil baik-baik. Segeralah saya beri kabar ke suami yang insist pulang besok paginya. Padahal minggu lalu sudah pulang. Tiap minggu balik Lampung pasti kan lelah di jalan 😟

Seperti demam

Sesampai di rumah, sudah berganti daster (daster kesayangan, kapan-kapan pengen share deh tentang daster yang saya miliki hahaha), dan langsung besantai dengan menonton TV, tiba-tiba pukul 20,00 WIB saya merasa cenut-cenut di bagian jalan lahir. Muncul hilang. Lalu saya memutuskan tidur pukul 22.00 WIB. Tumben sekali tidur sangat nyenyak sampai akhirnya pukul 02.00 WIB. Saya kebelet pipis. Setelahnya saya merasa seperti demam, kedinginan dan berkeringat di waktu bersamaan. Saya merem, rasanya tidur tapi sadar dan berasa mimpi. Aneh pokoknya. Selalu didengungkan dalam hati, “Sabar, Nak bapakmu lagi di jalan. Keluarnya nunggu bapak. Bapak lagi di jalan. Sabar, nunggu bapak ya.” Itu terngiang-ngiang di pikiran. Karena memang pasti pukul 03.00 WIB suami mulai otw ke bandara dari Cikarang untuk flight pukul 06.30 WIB. Terus saya bergumam dalam hati, “Wah bener-bener kamu nurut ya sama bapakmu. Permintaan bapakmu untuk lahir di weekend kamu kabulin.” Dengan badan yang berasa tidak sehat, tiap satu jam bangun melirik jam. Rasanya lama sekali waktu berjalan.

Baca juga: “Maternity Bag” #1 (Perlengkapan Bayi saat Lahiran)

Nge-flek!

Pukul 06.00 WIB pipis dan ada darahnya. Dengan lugunya tanya pada diri sendiri, “Ini yang namanya nge-flek tanda mau lahiran? Tapi kok barengan pipis? Aku kena infeksi saluran kemih, apa? Ini tanda apa?” Bingung sendiri deh jadinya hahaha. Kepikiran ISK karena sebulan sebelumnya cek urin, urin keruh dan positif ada bakteri. Jelaaaaas, saya cek urin pagi hari setelah sarapan dan minum susu belum sempat minum air putih sejak semalam. Hahaha. Baiklah kembali ke kronologis. Setelahnya saya lapor ke mama dan saya disuruh siap-siap. Feeling lahiran muncul sejak jam 2 pagi. Jadi tidak panik. Dengan santai mandi pakai air hangat, sarapan, minum susu, minum jus tomat, nyiapin tas yang dibawa ke rumah sakit, dan cek berkas BPJS karena intensinya lahiran pakai BPJS. Sejak jam 6 itu perut rasanya mules dan kencang. Muncul dan hilang, bergantian. “Oh begini rasanya kontraksi mau lahiran,” batinku sambil buka aplikasi Contraction Timer.

Baca juga: Lahiran Pakai BPJS (JKN-KIS)

Kontraksi

Pukul 09.00 WIB tiba di rumah sakit. Langsung dicek bukaan oleh bidan. Saya have no idea tentang cek bukaan. Ternyataaaaaa! Tangan bidan dimasukkan ke ‘situ’, dalam dan sakit. Saya teriak tapi diminta untuk tarik dan hembus nafas supaya rileks. Ternyata sesakit itu, apalagi kan jalan lahir terasa nyeri dan perih sejam jam 2 dini hari. Setelah dicek ternyata sudah bukaan 3. Lalu saya ditawari untuk jalan-jalan di sekitar rumah sakit karena itu membantu proses bukaan. Karena saya merasa sakit sekali dan mengantuk karena sejak jam 2 tidak tidur nyenyak, saya memilih stay. Lalu perut saya dipasang CTG atau cardiotocography yang berfungsi untuk memeriksa kesehatan janin. Cardiotocography berasal dari kata jantung (cardio-), kontraksi uterus (-toco-), dan perekaman (-graphy). Jadi alat ini bisa merekap detak jantung si kecil dan melihat seberapa sering kontraksi. CTG dipakai sebelum atau selama persalinan. Kalau saya hanya dipakai sebelum persalinan saja.

Setelah dipasangnya CTG, bidan bertanya sebelum ke rumah sakit kontraksi yang dirasakan setiap berapa menit. Saya jawab dua menit. Karena saat di rumah setiap sakit, timer kontraksinya saya pencet mulai. Sakitnya hilang, saya setop. Lalu bidannya heran seperti, “Ah masa sih.” Lalu bidan cukup lama di samping saya membaca hasil rekam CTG sambil saya kesakitan karena kontraksi yang datang pergi. Mama saya mengelus-elus punggung dan pinggang saya membantu meredakan sakitnya meski sakitnya itu ternyata belum apa-apanya dibanding bukaan selanjutnya. Kata bidannya, “Itu kontraksi palsu. Belum ada tanda yang kontraksi sesungguhnya.” Dan saya dalam hati berteriak, “WHAT? KONTRAKSI PALSU? SESAKIT INI? YANG ASLI LEBIH SAKIT, DONG! YANG DI RUMAH TADI JUGA KONTRAKSI PALSU?” Inhale, exhale, inhale, exhale. Think that braxton hick is the step I should enjoy before the real ones! Fighting!

Love,


 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *